-->

ads

Kepemimpinan Nabi Ibrahim; Pemimpin Berkarakter Rela Berkorban untuk Rakyat

Kamis, 10 Agustus 2023

 

Kurban (Gambar Dream.co.id)


Memimpin itu menderita, memimpin itu tanggungjawab, memimpin itu memotivasi, demikian yang ditulis oleh Alfan Alfian. Tentu banyak lagi sederet kalimat untuk menjelaskan tentang makna kepemimpinan. Mungkin juga ada yang menulis pemimpin sama dengan kekuasaan yakni  sebuah kesempatan dan peluang untuk memperkaya diri dan kroninya. Atau mungkin juga ada yang ‘aneh’—di zaman Kalatida, zaman edan seperti yang disampaikan Ronggo Warsito—masih ada yang mengatakan bahwa kekuasaan bukanlah segalanya, kekuasaan itu intinya adalah mensejahterakan. 


Yang pasti pendekar sejati bukanlah pemimpin berkelas salon, yang merengek pada dan takut kehilangan kekuasaan, sehingga begitu masa jabatannya habis ingin mencari penggantinya yang diharapkan bisa meneruskan keinginannya atau untuk menutupi ‘aib’ selama kepemimpinannya. 


Pemimpin otentik; Tidak Terjebak pada lipservice

Pemimpin otentik tidak perlu bedak dan gincu. Ia tidak takut keramain kerumunan, dan juga pada kesepian dan kesendirian. Ia tidak perlu polesan yang terjebak pada lipservice. Pemimpin merubah kerumunan menjadi barisan, jamaah, para pengikut yang visioner, para kader yang mumpuni.


Di wilayah dan segmen apa saja—termasuk politik—pemimpin sejati tetap sejati, karakternya tidak akan lentur oleh godaan. Pemimpin sejati tidak mengandalkan kesombongan untuk menutupi kelemahan, ingin dilayani, antikritik, bermental feodal untuk mempertahankan kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara. Kalau ini yang dilakukan tidak hanya Petruk saja dalam kisah inovasi pewayangan, bisa jadi Raja. Tapi meminjam bahasa Nurcholish Madjid, karena kita telah mengalami demokrasi ... setan gundul pun, kalau jadi Presiden/gubernur/bupati/camat/kuwu pilihan rakyat, apa mau dikata. 


Persoalannya, masih adakah pemimpin sejati, ketika di Indonesia misalnya untuk memilih seorang pemimpin masuk kategori highcost? Terlalu mahal, sehingga banyak di antara pemimpin kita yang mengalami disorientasi nilai, ujung akhirnya korupsi dan menafi’kan perjuangan untuk mensejahterakan rakyatnya. Gelap mata dan kehilangan keteladan, lupa bahwa ia seorang pemimpin yang akan menjadi prototype dan akan diadaptasi perilakunya oleh para pengikutnya.


Kepemimpinan Nabi Ibrahim; Rela Berkorban untuk Rakyatnya

Pemimpin yang rela berkorban untuk kemajuan negara dan rakyatnya—bahkan untuk generasi berikutnya—ini yang dilakukan Nabiyullah Ibrahim as dan nabi-nabi lain juga selalu berkomitmen untuk berkorban bahkan sampai ke tingkat nyawa hanya untuk kepentingan rakyat dan agamanya. 


Dalam QS. Ash-Shaffat [37]: 102) digambarkan: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”


Dalam “Prophetic Leadership”-nya Achyar Zein disebutkan: Nabi Ibrahim as juga rela berkorban untuk mempertaruhkan nyawa ketika menghadapi para penyembah berhala dengan sebuah konsekuensi hidup atau mati. Konsekuensi ini karena yang dihadapi Nabi Ibrahim masyarakat yang tidak mau berpikir secara rasional. Di saat yang sama beliau juga menjadi korban perasaan dan menghadapi kendala psikologis dalam perjuangannya menegakkan Aqidah karena harus berhadapan dengan orang tuanya sendiri yang notabenenya sebagai pembuat berhala. 


Tidak berhenti sampai di situ ia pun harus menghadapi kenyataan untuk dibakar hidup-hidup dan diasingkan. Berhadapan dengan raja/pemimpin yang dhalim dan tiran serta masyarakat yang kejam sehingga nyawa selalu menjadi ancaman bagi nabi Ibrahim as. 


Bentuk pengorbanan lain yang dilakukan oleh nabiyullah Ibrahim adalah pengorbanannya yang luar biasa untuk membangun dasar-dasar baitullah—yang dapat dipastikan—bahwa nabi Ibrahim tidak pernah menerima fee uang proyek dari pembangunan yang dikerjakannya ini. Bahkan sebaliknya nabi Ibrahim banyak berkorban dari sisi harta, tenaga dan pemikiran dalam pembangunan baitullah ini yang sama sekali bukan untuk kepentingan nabi Ibrahim dan keluarganya, tetapi untuk kepentingan ummat dan masyarakat. 


Inilah pemimpin dan negarawan sejati, yang rela berkorban untuk kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadinya. Filosofi yang digunakannya bukan sekedar lipservice dengan mengumbar janji tanpa bukti dan pada saat yang sama melakukan tindak memperkaya diri, tetapi “apa yang bermanfaat untuk rakyat, akan dilakukannya”. 


Pemimpin itu teladan, Allah catat dalam sejarah yang diabadikan dalam Surat Al Mumtáhanah ayat 4: "qad kānat lakum uswatun ḥasanatun fī ibrāhīma wallażīna ma'ah” (Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya) Ayat ini menyatakan, Nabi Ibrahim sebagai seorang pemimpin harus diikuti dan ditaati karena kepribadian, ucapan dan tingkah lakunya yang saling bersesuaian, bukan hanya lipservice—seperti janji para politisi kita—yang menurut M. Alfan Alfian  adalah lazim saja. Kalau Rene Descartes beradagium cogito ergo sum—aku perpikir, maka aku ada—pemimpin politik; aku berjanji maka aku ada. Politisi selalu berdalih, janji kampanye itu satu hal, realisasi adalah hal lain. Ini mirip sindiran mantan PM Uni Soviet Nikita Khrushchev politisi itu semuanya sama; mereka janji membangun jembatan, meskipun tidak ada sungai.


Allah SWT., juga berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 120: 

“inna ibrāhīma kāna ummatang qānital lillāhi ḥanīfā, wa lam yaku minal-musyrikīn”.  (Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah). 


Allah menegaskan bahwa dalam diri Nabi Ibrahim terdapat teladan, sebab hanya Nabi Ibrahim yang selalu kita sebut dalam shalat, selain Nabi Muhammad saw. Doa yang kita baca untuk Nabi Muhammad ketika tasyahúd selalu disetarakan dengan doa kepada Nabi Ibrahim.


Dalam Islam keteladanan, dikenalkan dengan istilah uswátun hasánah, yaitu sebuah konsep moralitas seorang pemimpin dalam pola interaksi, komunikasi dengan rakyatnya. Sebelum Nabi Ibrahim as hadir saat itu pola interaksi pemimpin dan masyarakat adalah militeristik dan otoriteristik.


Kemudian Nabi Ibrahim hadir membawa pola interaksi dengan paradigma baru yaitu mengedepankan moralitas dan contoh teladan yang baik. Sebuah gerakan moral yang bersifat soft-power, dengan menjunjung tinggi keteladanan, penegakan hak asasi manusia dan akhlak mulia.


Memimpin; Tugas Suci

Tugas pemimpin merupakan tugas yang suci dan mulia karena pemberian tugas itu bertujuan hendak mencapai cita-cita yang suci dan mulia. Rasul yang mulia, Muhammad SAW. juga teladan yang patut diikuti dalam konteks kepemimpinan yakni melayani pengikutnya. Dengan gaya kepemimpinan beliau yaitu servant leadership menjadikan beliau sebagai pemimpin yang berpengaruh dan memudahkan seorang pemimpin untuk mencapai tujuannya. Terutama dalam perbuatannya dalam merawat dan melayani sehingga dapat mempengaruhi orang-orang di sekitarnya menjadi terdidik dan merasakan kesejahteraan.


Tidak elok jika ada pemimpin yang menghindari tanggung jawabnya dengan berbagai dalih mengada-ada atau mencari pembenaran. Pemimpin seperti itu merupakan penumpang gelap demokrasi. Hanya mencari popularitas di atas kepatuhan buta pengikutnya. Bukankah fungsi seorang pemimpin bukan hanya sekadar sosok untuk memenuhi perangkat organisasi. Lebih dari itu, pemimpin merupakan role model untuk memberi citra suatu organisasi. 


Sepak terjang pemimpin menggambarkan kredibilitas pribadi sang pemimpin sekaligus karakter massa pendukung dan kualitas organisasi pengusungnya. Maka, oleh sebab itu seorang pemimpin wajib memiliki berbagai karakter positif, seperti jujur, melayani, berani, siap dikritik dan rela berkorban. Pemimpin harus berani menghadapi kenyataan akibat ucapan dan perbuatannya yang tidak koneksitas.


Dalam fikih siyasyah moral yang menjadi dasar kebijakan dan tindakan pemimpin adalah untuk kemaslahatan agama dan bangsa, kaedah fikih menyebutkan: “tasharruf imam `ala al-ra`iyyah manuthun bi al-mashlahah“, (Tindakan pemimpin atas rakyat terikat oleh kepentingan atau kemaslahatan umum) Jadi, pemimpin wajib bertindak tegas demi kebaikan bangsa, bukan kebaikan diri dan kelompoknya semata.


Potret kepemimpinan Nabi Ibrahim dapat dideskripsikan dari berbagai perintah Allah swt, dan aksi nyata dalam membawa cita-cita reformasi untuk perbaikan nasib ummat manusia, sehingga dapat kita aplikasikan dalam kehidupan nyata. 


*)Penulis adalah Ketua STKIP al-Amin Indramayu dan Dosen Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Tinggal di Kandanghaur Indramayu



0 comments: