-->

ads

Puasa dan Etos Kerja

Senin, 08 April 2024

 

Ilustrasi puasa dan etos kerja

Oleh: Masduki Duryat*)

Puasa mentarbiyahi kita untuk beretoskerja yang tinggi, dan ada korelasi yang kuat antara puasa yang kita lakukan dengan etos kerja. 


Kita tidak ingin berpuasa berkali-kali tapi terjebak pada rutinitas-ritualistic yang tidak berdampak pada dimensi sosial dan pada kehidupan yang lebih baik.


Tujuan Puasa

Puasa—dengan meminjam Bahasa Nabi—ada tiga periodisasi, sepuluh hari pertama adalah Rahmat, di tengah Maghfirah dan di akhirnya ithqun min al-nar. Ketiganya berkelindan, tidak bisa kita memilih hanya di sepuluh hari yang terakhir misalnya untuk mendapatkan pembebasan dari api neraka. Karena tidak mungkin kita akan mendapatkan maghfirah kalau tidak dapat Rahmat dari Allah. Demikian juga kita tidak akan dapat ithqun min al-nar kalau tidak mendapat Rahmat dan maghfirah Allah. 


Selanjutnya di ujung akhir ayat puasa, QS. 2: 183 Allah menyampaikan kita akan menjadi hamba yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa dalam dimensi tertentu adalah orang-orang yang taat Azaz, taat pada aturan yang dibuat oleh Allah dan regulasi yang dibuat oleh manusia. Mencukupi segala kebaikan yang kita lakukan. 


Puasa bulan Ramadhan. Ramadhan yang makna katanya berarti panas, terik, membakar. Maka orang Arab ketika mendengar kata Ramadhan, bukan pada puasanya atau kegiatan lainnya tetapi terbayang akan dosa-dosanya ‘dibakar’, dihapuskan oleh Ramadhan dengan puasa yang kita lakukan. Seolah Allah ingin mengatakan seberapa banyak dosa yang kita lakukan di tahun lalu, Allah akan ‘bakar’ semuanya, dan diampuni.


Ini juga yang kemudian dikuatkan oleh hadits Nabi “Shalat lima waktu, dari jumat ke jumat berikutnya dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah kaffarat—penebus dosa—yang kita lakukan, sepanjang menjauhi dosa-dosa besar”. 


Itu juga kenapa malam hari di sela-sela shalat tarawih setiap rakaatnya kita berdoa “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’.”


Bahkan di saat waktu sahur, menjelang fajar kita juga terus beristighfar, minta ampun kepada Allah dan saat itu Allah mengatakan, “hai hambaku, hai hambaku …. Siapa yang minta saya akan kabulkan, siapa yang bermohon akan saya dengar”. 


Inilah salah satu dari sekian banyak keistimewaan bulan Ramadhan dengan puasa yang kita lakukan di dalamnya.


Puasa paling tidak mengajarkan kita tiga hal; Pertama, bersikap kritis dan peduli terhadap lingkungan; Kedua, adanya korelasi antara keshalihan pribadi dan sosial; dan ketiga, jiwa keagamaan yang inovatif.


Tiga implikasi puasa ini akan berkorelasi dengan etos kerja yang kita lakukan selama puasa di bulan Ramadhan dan sesudahnya. 


Puasa dan Etos Kerja

Etos kerja adalah seperangkat perilaku positif dan fondasi yang mencakup motivasi yang menggerakkan mereka, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku, sikap, aspirasi, keyakinan, prinsip dan standar.


Etos kerja ini bisa berbentuk berpakaian rapi atau menyesuaikan aturan masing-masing Perusahaan/Lembaga, berdisiplin, memiliki inisiatif, visioner, semangat yang tinggi, berbicara dengan bijak dengan atasan maupun rekan kerja, tanggung jawab terhadap tugas atau pekerjaannya, menghargai perbedaan pendapat, berintegritas terhadap pekerjaan dan lainnya. 


Menurut Nurcholish Madjid, etos kerja dalam Islam adalah hasil suatu kepercayaan seorang Muslim, bahwa kerja mempunyai kaitan dengan tujuan hidupnya, yaitu memperoleh perkenan Allah Swt. Berkaitan dengan ini, penting untuk ditegaskan bahwa pada dasarnya, Islam adalah agama amal atau kerja (praxis).


Dalam QS. 46: 19 Dinyatatakan bahwa derajat, kedudukan, posisi itu menurut apa yang telah mereka kerjakan, maksimal atau tidak. Allah akan akan memberikan balasan pekerjaan yang mereka lakukan dengan tanpa merugikannya. 


Inilah momentumnya puasa berkelindan dengan etos kerja. Tiga hal implikasi berpuasa; Pertama, bersikap kritis dan peduli terhadap lingkungan; Kedua, adanya korelasi antara keshalihan pribadi dan sosial; dan ketiga, jiwa keagamaan yang inovatif. Akan sangat jelas mempengaruhi etos kerja yang kita lakukan.


Pertama, bersikap kritis dan peduli terhadap lingkungan.  Orang yang berpuasa akan berfikir kritis, critical thinking, berfikir Tingkat tinggi terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Karena puasa mengajarkan kita tidak boleh terjebak pada zona nyaman, tetapi terus berupaya untuk mendapatkan Rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka memerlukan upaya kerja keras. Atau dalam Bahasa Imam Ghazali, kita tidak ingin berpuasa hanya pada kategori awam, tetapi sedapat mungkin terus berusaha beranjak ke level khawas dan khawasul khawas. 


Pekerjaan yang kita lakukan tidak hanya terjebak pada ritual rutinistik tiap tahun dan hanya menggugurkan kewajiban tapi tidak memiliki dampak. Tetapi terus dijaddiduu imanakum—diperbaiki, direformasi--sekaligus juga melakukan kepedulian terhadap lingkungan, lingkungan kerja, alam sekitar dan sesama.


Kedua, Korelasi keshalihan pribadi dan sosial. Bekerja dengan baik, professional tanpa harus diawasi dan disupervisi oleh atasan. Karena puasa mengajarkan kepada pelakunya bahwa ada pengawasan internal, yakni kemahahadiran Allah dalam setiap pekerjaannya. 


Ibadah-ibadah lain rentan dengan ria—ingin dipuji—sementara ibadah puasa yang dilakukan hanya dia dan Allah yang mengetahuinya. 


Ibadah spiritual harus terus ditingkatkan dengan baik sehingga pekerjaan yang dilakukan semakin meningkat profesionalitasnya. Itu juga di ujung akhir ayat puasa dengan meminjam Bahasa Jalaluddin Rakhmat Allah menyampaikan; “walitukmilul ‘iddata walitukabbirallaha ‘ala ma hadakum wala’allakum tasykurun”. Pertanyaannya, kenapa selesai berpuasa kita masih diminta untuk bertakbir, membesarkan Allah? Jawabannya sederhana, betul dalam shalat kita sudah membesarkan Allah dan mencoba untuk mengecilkan persoalan dunia. Betul dalam tadarrus, membaca al-Quran kita sudah membesarkan Allah dan mengecilkan kalam-kalam manusia, demikian pula dalam berpuasa kita sudah membesarkan Allah dan mengecilkan peran hawa nafsu. Tapi di luar itu semua kita kecilkan Allah dan membesarkan dunia, serta hawa nafsu. Artinya ibadah yang kita lakukan terjebak pada rutinitas ritualistic tidak berdampak, tidak produktif. 


Sekedar menyebut contoh Indonesia oleh Political and Economic Risk Consultancy (PERC) Hongkong masih diklaim sebagai negara yang paling korup di Asia, padahal penduduknya mayoritas muslim dan berpuasa. 


Sekali tarikan nafas ibadah spiritual ini juga berimbang dengan ibadah sosial. Ibadah spiritual yang dilakukan numusi—dalam Bahasa Amien Rais—dalam kehidupan sosialnya. Ibadah sosial ini misalnya semangat membantu, peduli kepada sesama, menghormati orang lain, toleran, dan bahkan saling menyayangi. Ini yang dalam pembelajaran oleh Mas Nadiem Makarim disebutnya dengan soft skill. Soft skill ini yang akan menunjang kesuksesan seseorang dalam karir dan pekerjaan.  Yang dalam Bahasa Daniel Goleman disebutnya EQ, EQ ini menyumbang 80% terhadap kesuksesan seseorang, sementara IQ hanya 20% saja, bahkan temuan terbaru IQ hanya memberikan kontribusi 6% saja terhadap kesuksesan seseorang. 


Puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini, melatih untuk peduli, berempati, menghormati, dan membantu kepada sesama. 


Ketiga, Jiwa keagamaan yang inovatif. Kata kunci inovasi ini penting, karena Reinal Kasali dalam bukunya “Disrupsi” mengatakan inovasi ini kejam, karena inovasi akan ‘membunuh’ sesuatu yang tidak relevan dengan kondisi dan kebutuhan kekinian. Bekerja tidak boleh terjebak pada rutinitas, tetapi harus terus berbenah, memperbaiki diri, dan visioner. 


Orang yang melaksanakan puasa juga bersikap inovatif. Itu kenapa makna filosofi malam kemuliaan—laylatul Qadar—kata ‘Aisyah harus ‘diintip’ di malam-malam akhir bulan Ramadhan. Maknanya menuntut bagi orang yang berpuasa harus ‘inovatif’ terus memperbaiki diri, semakin berkualitas agar layak mendapatkan keutamaan malam kemuliaan. Kita tidak ingin terjebak pada adagium bahwa “tidurnya orang berpuasa, berpahala”, lalu menjadikannya bermalas-malasan dan tidak produktif. 


Penutup

Puasa di bulan Ramadhan ini menghadirkan semangat dan motivasi kerja yang semakin tinggi, meningkat dan professional. Bahkan kalau kita tilik secara historis, justru perang Badar terjadi pada saat puasa di bulan Ramadhan, yang tidak mengendurkan motivasi dan semangat dalam berjuang. Sampai-sampai nabi mengatakan di selesai perang itu, baru saja kita menyelesaikan jihad asghar menuju jihad akbar, yakni ‘memerangi’ hawa nafsu. 


*)Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan Ketua STKIP Al-Amin Indramayu, tinggal di Kandanghaur


0 comments: