-->

ads

Wacana Makan Siang Gratis bagi Anak Sekolah dan Politik Pendidikan sebagai Kekuasaan

Senin, 08 April 2024

Ilustrasi makan siang gratis 


Oleh: Masduki Duryat*)


Wacana makan siang gratis untuk anak sekolah—yang merupakan program salah satu Capres—akan dibebankan pada dana BOS. Menko Perekonomian mewacanakan ini dan menimbulkan gelombang riuh pada dunia pendidikan, pasalnya dana BOS yang ada sekarang masih sangat menyulitkan bagi sekolah-sekolah yang intensitas kegiatannya sangat tinggi. Realitasnya masyarakat Indonesia masih membutuhkan fasilitas, sarana prasarana pendidikan dan penambahan gedung pendidikan baru ketimbang program makan siang gratis. 


Ini bagian kecil dari politik kekuasaan di bidang pendidikan, dalam konteks ini politik anggaran dalam pendidikan. 


Wacana ini semakin melengkapi isu di tengah masyarakat tentang adagium ganti menteri, ganti kurikulum. Jangankan esensi dari kurikulum, terma-terma yang ada di kurikulum saja belum paham betul, sudah diganti kurikulum yang baru, itu yang dikeluhkan oleh beberapa guru, yang berpandangan pesimis terhadap kebijakan pergantian kurikulum ini. Kurikulum merdeka—yang katanya akan menyederhanakan dan guru tidak terjebak pada aspek administratif—sering dimemekan di medsos, guru malah terjebak pada rutinitas tugas; pagi bertugas menyampaikan ilmu, siang mengerjakan tugas dan malam disibukkan dengan webinar. 


Belum lagi persoalan kualitas, ‘kemauan negara’ anak akan menjadi apa, pemerataan guru dan akses pendidikan, kesenjangan ekonomi, dan politik kekuasaan di bidang pendidikan lainnya misalnya dengan pembiaran masyarakat menjadi bodoh dengan stupidifikasi, domistifikasi dan indoktrinasi yang dilakukan oleh negara. 


Kebijakan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah dengan pemantiknya dua hal; Pertama, dinamika masyarakat yang sedemikian cepat dan Kedua, ekspektasinya yang sangat tinggi dalam persoalan pendidikan. Alih-alih akan mengeliminir dua persoalan tersebut, malah memunculkan masalah baru dalam pendidikan.


Makan Siang Gratis bagi Anak Sekolah

Wacana makan siang gratis bagi anak sekolah diwacanakan oleh Menko Perekonomian akan dibebankan ke dana BOS, sebelumnya juga beredar berita bahwa anggaran makan siang gratis ini akan diambil dari subsidi BBM yang dicabut karena dianggap salah sasaran.


Persoalan ini muncul akibat dari program Capres yang tidak terukur dan menggunakan skala prioritas. Atau boleh jadi politikus akan terjebak pada persoalan antara janji dan realitas merupakan dua hal yang berbeda,  kalau Rene Descartes beradagium cogito ergo sum—aku perpikir, maka aku ada—pemimpin politik; aku berjanji maka aku ada. Politisi selalu berdalih, janji kampanye itu satu hal, realisasi adalah hal lain. Ini mirip sindiran mantan PM Uni Soviet Nikita Khrushchev politisi itu semuanya sama; mereka janji membangun jembatan, meskipun tidak ada sungai.


Sekedar menyebut contoh, Organisasi Profesi Guru menghitung Dana BOS yang sekarang masih sangat kurang, apalagi sekolah yang intensitas kegiatannya tinggi. Sekedar menyebut contoh, BOS untuk anak SD itu Rp. 900.000/pertahun/anak jika makan siang dibebankan ke BOS maka ada sekitar Rp. 4,8 juta/anak/tahun ada kekurangan Rp. 3,9 juta itupun jika di bulan Ramadhan tidak ada jatah makan siang. Dengan demikian alokasi lain tidak teranggarkan, bagaimana kondisi sekolah dan guru honorer?


Kemudian kalau anggarannya ditambah misalnya dibutuhkan anggaran Rp. 450 triyun, kalau sekarang anggaran pendidikan Rp. 660 triyun.,ditambah makan siang berarti Rp. 1.050 trilyun, atau sembilan kali lipat dari anggaran BOS sekarang. Kalau Rp. 450 trilyun., tentu masih efektif untuk membangun sekolah baru, fasilitas dan biaya sekolah dan kuliah yang tidak terlalu mahal—termasuk tidak pinjam Pinjol—untuk biaya kuliah. Karena anak-anak Indonesia tidak masuk kategori yang kurang makan. 


Ini persoalan baru yang muncul kalau kebijakan makan siang garis tetap dibebankan ke dana BOS, belum lagi untuk anak SLTP dan seterusnya. Siapa yang akan mengelola dana makan siang ini? Tidakkah ini juga akan memunculkan ‘sarang’ korupsi baru?


Politik Pendidikan sebagai Kekuasaan

Ada empat definisi mengenai politik pendidikan. Pertama, politik pendidikan adalah metode mempengaruhi pihak lain untuk mencapai tujuan pendidikan. Kedua, politik pendidikan lebih berorientasi pada bagaimana tujuan pendidikan dicapai. Ketiga, politik pendidikan berbicara mengenai metode untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya anggaran pendidikan, kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat dan sebagainya. Keempat, politik pendidikan berbicara mengenai sejauh mana pencapaian pendidikan sebagai pembentuk manusia Indonesia yang berkualitas penyangga ekonomi nasional, pembentuk bangsa yang berkarakter. 


Politik pendidikan sebagai kekuasaan merujuk pada bagaimana keputusan politik dan kebijakan pemerintah memengaruhi sistem pendidikan suatu negara. Hal ini mencakup pengaturan pendanaan, kurikulum, standar pendidikan, serta aksesibilitas pendidikan bagi masyarakat. 


Politik pendidikan juga melibatkan interaksi antara pemerintah, lembaga pendidikan, guru, siswa, dan masyarakat dalam menentukan arah dan kualitas pendidikan. Kebijakan pendidikan sering kali mencerminkan nilai-nilai politik yang dominan dalam suatu masyarakat, dan keputusan tentang apa yang diajarkan, bagaimana itu diajarkan, dan siapa yang mengajarkannya dapat mencerminkan distribusi kekuasaan yang ada. Misalnya, dalam sistem pendidikan yang otoriter, kebijakan pendidikan dapat digunakan untuk memperkuat penguasaan pemerintah atas masyarakat, sementara dalam sistem demokratis, kebijakan pendidikan mungkin lebih tercermin dari proses politik yang lebih terbuka dan inklusif.


Politik dalam Mempengaruhi Sistem dan Kebijakan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan bangsa. Namun, pendidikan di Indonesia tidak luput dari pengaruh politik. 


Politik dapat memengaruhi sistem dan kebijakan pendidikan dalam berbagai aspek, mulai dari kurikulum, pendanaan, hingga akses pendidikan. Politik memiliki pengaruh besar pada sistem dan kebijakan pendidikan di Indonesia. Pengaruh itu antara lain; Pertama, kebijakan tentang kurikulum, pendanaan dan akses Pendidikan. Kedua, Pendidikan sebagai alat kontrol dan legitimasi, misalnya melalui indoktrinasi ideologi atau penekanan pada kepatuhan terhadap norma dan nilai yang ditetapkan pemerintah. Ini dilakukan misalnya pendidikan dapat digunakan untuk membentuk identitas nasional dan menanamkan rasa cinta tanah air. Sejarah dan pendidikan kewarganegaraan dapat dimanipulasi untuk mendukung agenda politik tertentu; Ketiga, Distribusi Sumber Daya dan Kualitas Pendidikan. Misalnya Politik dapat mempengaruhi distribusi sumber daya pendidikan dan kualitas pendidikan di berbagai daerah. Contohnya, daerah terpencil dan tertinggal mungkin memiliki akses yang lebih sedikit ke sekolah berkualitas dan guru yang kompeten.


Pendidikan Sebagai Alat untuk Memperjuangkan Perubahan dan  Keadilan Sosial 

Pendidikan bukan hanya tentang belajar di sekolah dan mendapatkan nilai bagus. Pendidikan memiliki kekuatan besar untuk mengubah kehidupan dan menciptakan masyarakat yang lebih adil. Pendidikan ditengarai harus memiliki peran; Pertama, Meningkatkan kesadaran kritis; Kedua, Membangun kapasitas dan keterampilan; Ketiga, Memberdayakan kelompok marginal; Keempat, Mendorong partisipasi politik; Kelima, Membangun gerakan sosial:


Problem dan Tantangan dalam Memahami Politik Pendidikan sebagai Kekuasaan

Arti penting pendidikan bagi keberlangsungan hidup ternyata masih banyak mengalami masalah-masalah yang cukup pelik ketika dilangsungkan berdasarkan kekuasaan. Setidaknya ada beberapa masalah yang berkenaan erat dengan pelaksanaan pendidikan berdasarkan kekuasaan, antara lain : Domestifikasi dan stupidikasi. 


Proses domestifikasi (penjinakan) dan stupidikasi (pembodohan) dalam pendidikan disebut juga imperialisme pendidikan dan kekuasaan. Artinya, peserta didik menjadi subjek eksploitasi oleh suatu kekuasaan di luar pendidikan dan menjadikan peserta didik sebagai budak dan alat dari penjajahan mental yang dilakukan oleh para penguasa. Proses domestifikasi dalam pendidikan ini dapat kita lihat dari perlakuan yang salah terhadap ijazah (pemujaan ijazah). Ijazah dijadikan tangga untuk menaikkan status sosial, terlepas dari bagaimana proses yang dilalui dalam mendapatkannya.


Problem berikutnya adalah Indoktrinasi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sistem pendidikan menjadi sasaran empuk bagi penguasa untuk bisa menancapkan kukunya dalam penentuan kurikulum. Kurikulum dari mulai taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi semuanya berada dalam genggaman pemerintah tanpa ada kebebasan dari lembaga-lembaga pendidikan tersebut untuk menyusun sendiri kurikulumnya. Semua serba sentralistik, anak ingin menjadi apa, dimekanisasi termasuk keinginan negara. Kurikulum selalu berubah dengan mengesampingkan kreativitas guru yang terjebak pada aspek-aspek administratif. Melalui kurikulum inilah proses indoktrinasi yaitu proses untuk mengekalkan struktur kekuasaan yang ada terjadi.


Oleh karena itu diperlukan beberapa solusi dari problem pendidikan berdasarkan kekuasaan. Pertama, Pengelolaan lembaga pendidikan yang demokratis; Kedua, Pengelolaan dan pengembangan sekolah secara otonom dan demokratis; Ketiga, Memperkuat pengawasan kekuasaan. 


Ada banyak tantangan pendidikan sebagai kekuasaan. Politik pendidikan sebagai kekuasaan bukan berarti meniadakan peran penting pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Justru dengan memahami politik pendidikan, kita dapat lebih kritis dalam melihat sistem pendidikan dan mendorong perubahan positif untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas dan adil bagi semua.


Tantangan dalam memahami politik pendidikan sebagai kekuasaan, antara lain: Keseimbangan kebutuhan pendidikan dan tuntutan politik, mencegah indoktrinasi dan propaganda politik, membangun sistem pendidikan yang demokratis dan inklusif, kompleksitas dan multidimensi politik pendidikan.


Kesimpulannya bahwa memahami politik pendidikan sebagai kekuasaan adalah proses yang kompleks dan penuh dengan dilema dan tantangan. Namun, dengan memahami dan mengatasi tantangan ini, kita dapat membangun sistem pendidikan yang lebih adil dan berkualitas untuk semua.


*)Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan Ketua STKIP Al-Amin Indramayu, tinggal di Kandanghaur


33 comments:

Komala Dewi mengatakan...

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh🙏🏼

Nama : Komala Dewi
Nim : 2108109029
Kelas : MPI 6A


Pemberian makan siang gratis bagi anak sekolah bisa dilihat sebagai strategi politik pendidikan yang kuat. Hal ini digunakan oleh pemerintah atau partai politik sebagai alat untuk memperoleh dukungan masyarakat, meningkatkan popularitas, dan memperkuat basis politik mereka. Selain itu, kebijakan ini juga dapat memengaruhi persepsi publik tentang kinerja pemerintah dalam menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas. Ketika uang anggaran BOS digunakan untuk tujuan politik pendidikan, hal ini bisa menimbulkan kekhawatiran akan penyalahgunaan kekuasaan. Penggunaan dana BOS seharusnya lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang konkret dan mendesak, bukan digunakan sebagai alat politik. Transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan anggaran BOS sangat penting untuk memastikan bahwa dana tersebut digunakan dengan tepat dan untuk kepentingan sebenarnya, yaitu kesejahteraan siswa dan peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai bagian dari kekuasaan politik, implementasi program tersebut juga bisa menjadi subjek diskusi politik dan bahan kritik jika tidak dijalankan dengan baik.

Sebagai mahasiswa, saya melihat wacana pemberian makan siang gratis bagi anak sekolah dan politik pendidikan sebagai isu yang kompleks. Di satu sisi, hal ini adalah langkah positif karena dengan adanya pemberian makan siang gratis bagi anak sekolah dapat membantu mengurangi beban ekonomi keluarga dan memastikan bahwa anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk tumbuh dan belajar dengan baik. Selain itu, program ini juga dapat membantu meningkatkan kehadiran sekolah dan konsentrasi belajar serta dapat meningkatkan prestasi akademik dan masa depan anak-anak tersebut. Namun, sebagai mahasiswa, saya juga menyadari bahwa kebijakan tersebut dapat dipolitisasi dan dimanfaatkan sebagai alat untuk memperoleh keuntungan politik, tanpa memperhatikan kepentingan sebenarnya.

Nur jihan aqilah mengatakan...

Nama: Nur jihan aqilah
Nim: 2108109016
Kelas A

Izin menanggapi pak, menurut saya program makan gratis di sekolah ini semestinya menjadi investasi paling berharga yang dapat dilakukan pemerintah karena bisa menciptakan lapangan kerja yang turut menggandeng pelaku usaha, mikro kecil, dan menengah (UMKM). Tetapi memang kurang efektif jika harus memotong anggaran BOS dan bisa jadi menyebabkan pergeseran atau pengalihan dana yang tujuan awalnya tidak sama, kalaupun memakai anggaran BOS berarti pemerintah harus menambah jumlah anggaran BOS dari yang ada saat ini.
Dan memang benar kita harus memahami politik pendidikan, karena pendidikan itu sendiri memiliki peranan penting dalam mengarahkan dan mengembalikan politik pada makna yang sebenarnya yaitu kesejahteraan masyarakat, bukan kegaduhan kaum elit atau keributan orang-orang atas, apalagi saat kampanye kemarin kita harusnya memanfaatkan forum tersebut untuk mengkritisi program-program yang dibawa saat kampanye, suka atau tidak terhadap para calonnya. Supaya kita para mahasiswa dapat memahami pola dan bentuk politik agar terhindar dari politik praktis dan keberpihakan kepada seseorang atau suatu kelompok.

Faisal mengatakan...

Nama : Faisal
Nim : 2108109001
Kelas : MPI 6/A

Tanggapan saya mengenai memberi makan gratis :

Memberikan makan gratis bagi anak sekolah adalah langkah yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan konsentrasi belajar mereka. Namun, penting untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak disalahgunakan untuk tujuan politik atau kekuasaan. Pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama tanpa campur tangan politik yang merugikan. Apalagi alih alih menggunakan dana APBN dan pendidikan menurut saya langkah ini kurang tepat, bagi mereka yang berpendidikan sayabyakin mereka lebih baik memilih pendidikan yang layak dari pada makan gratis, tapi mohon maaf bagi mereka yang pendidikan kurang pstinakan sepakat sepakat saja dengan adanya itu.

Mungkin demikian tanggapan saya mohon maaf apabila ada kata kurang santun, salam bebas berpendapat.

Fajar Mujahid Khoas mengatakan...

Nama : Fajar Mujahid Khoas
Nim : 2108109022
Kelas : MPI 6 A

perihal makan siang gratis menurut saya untuk usulan ataupun wacana tersebut ada pro dan kontraknya.
mungkin di bagian kontraknya daripada mengusulkan ataupun membuang uang untuk hal wacana makan siang gratis dan menggunakan dana BOS lebih baik memperbaiki sarana dan prasarana ataupun fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah karena masih banyak sekolah-sekolah ataupun fasilitas-fasilitas sekolah yang jauh ataupun kurang memadai makanya dengan hal itu harusnya pemerintah lebih mengutamakan perihal fasilitas ataupun sarana prasarana sekolah. karena yang saya ketahui masih banyak di daerah-daerah terpencil ataupun terpelosok yang masih sangat kekurangan dalam hal fasilitas ataupun sarana prasarana sekolah bahkan mungkin bisa disebut sangat tidak layak dan bisa membahayakan bagi para siswa ataupun pelajar contoh dari hal perihal bangunan ataupun atap yang kurang memadai dan itu akan membahayakan para pelajar dari perihal jalur ataupun perjalanan menuju ke sekolah masih sangat kurang harusnya pemerintah bisa ataupun dapat mengetahui perihal kekurangan tersebut dan dapat memperbaiki semua kekurangan-kekurangan tersebut.
namun saya juga tidak menyalahkan perihal program makan siang gratis karena menurut saya program tersebut juga benar dengan adanya program tersebut dapat membantu para pelajar agar teratur dalam hal makan karena yang saya ketahui dan saya juga mungkin mengalami masih banyak ataupun sering kali para pelajar itu lupa akan sarapan karena yang kita ketahui sarapan itu sangat penting untuk menjaga kesehatan ataupun stamina dengan adanya program tersebut akan sangat membantu para pelajar dan juga kita ketahui masih banyak para pelajar ataupun mahasiswa yang kekurangan dalam hal ekonomi perekonomian maka dengan adanya itu dapat membantu para pelajar dan mahasiswa yang kekurangan dan di daerah-daerah terpencil juga banyak para pelajar yang kekurangan ataupun dalam mengonsumsi makanan maka dengan adanya program makan siang gratis bagi para pelajar sangat membantu menurut saya yang seperti saya bilang di awal perihal program makan siang gratis tersebut ada pro dan kontraknya.
dan mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan atau utarakan perihal pendapat saya tentang program makan siang gratis saya mohon maaf apabila ada salah-salah kata ataupun tulisan dalam penyampaian pendapat saya🙏🙏🙏

Arika Yanto mengatakan...

assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh

nama : Arika Yanto
nim : 2108109003
kelas : MPI 6A

Makan siang gratis bagi anak sekolah merupakan inisiatif yang dapat memperbaiki kesejahteraan anak-anak dari keluarga kurang mampu dan meningkatkan akses mereka terhadap pendidikan yang berkualitas. Namun, dalam konteks politik pendidikan, hal ini juga dapat menjadi alat bagi pemerintah atau politisi untuk memperoleh dukungan politik dari masyarakat. Pengambilan keputusan terkait pemberian makan siang gratis bagi anak sekolah harus dilakukan secara transparan dan berbasis data untuk memastikan keadilan dan keberlanjutan program tersebut, serta menghindari penyalahgunaan kekuasaan politik.

Namun, dalam mengimplementasikan makan siang gratis menggunakan dana BOS, perlu ada mekanisme pengawasan yang ketat untuk memastikan dana tersebut digunakan secara tepat dan efisien. Ini akan membantu mencegah penyalahgunaan kekuasaan politik dalam alokasi dan pelaksanaan program tersebut.

Selain itu, penting untuk melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk sekolah, guru, orang tua siswa, dan masyarakat setempat dalam proses pengambilan keputusan dan implementasi program. Ini akan memastikan bahwa program tersebut sesuai dengan kebutuhan nyata dan memberikan manfaat yang maksimal bagi siswa dan komunitas sekolah secara keseluruhan.

Ghusnun Nisrina mengatakan...

Nama : Ghusnun Nisrina
Nim : 2108109013
Kelas : MPI 6A

Tanggapan tentang wacana makan siang gratis bagi anak sekolah dan politik pendidikan sebagai kekuasaan.
Memang banyak berita yang berseliweran tentang wacana makan gratis yang biayanya di ambil dari subsidi BBM dari dana BOS dan semacam nya, tetapi yang saya ketahui dari segi anggaran ini tidak langsung serta merta di tahun 2025 untuk semua anak sekolah, akan tetapi bertahap dan akan memprioritaskan untuk anak-anak SD. Tahun 2025 alokasi anggaran nya sudah di lihat dari porsi-porsi yang tidak mengurangi karena memang sudah pasti dari kesejahteraan sosial PARLINSOS itu salah satu nya, dan juga tentunya dari pangan pertanian, dan banyak juga berita yang berseliweran bahwasanya jatah makan siswa/i dalam sekali makan adalah sebesar 1 dolar. Di sini saya mau meluruskan 1 dolar itu bukan dalam sekali makan, melainkan setiap 1 dolar investasi akan menghasilkan 9 dolar untuk hasil output nya dan untuk dari segi pengadaan seperti di India. Sebagaimana program ini sudah berjalan karena ada 76 negara tinggal di cek (kalau tidak percaya) di world food programme (wfp.org) yang di mana di 76 negara sudah berjalan, kalau di India itu desain real life kitchen. Jadi dapur-dapur nya itu justru ada di setiap sekolah yang di mana bisa mengangkat UMKM yang menghasilkan sayur mayur serta lauk pauk dan tentunya petani dan nelayan sekitar. Hal yang sudah pasti di dapatkan jikalau program ini terlaksana dengan baik, anak-anak yang kurang dalam mengkonsumsi gizi seimbang akan mengurangi ketimpangan sosial dalam mendapatkan gizi yang baik.
Dan memang banyak dampak negatif dari kurikulum pembelajaran yang berubah-ubah, dampak negatifnya adalah mutu pendidikan menurun dan perubahan kurikulum yang begitu cepat menimbulkan masalah-masalah baru seperti menurunnya prestasi siswa. Hal ini dikarenakan siswa tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran pada kurikulum yang baru. Kita juga harus sadar karena kita memang masih ketinggalan jauh dari modernisasi dalam dunia pendidikan dari negara-negara maju. Mungkin pemerintah lagi mempersiapkan proses pembelajaran yang tepat untuk mewujudkan Indonesia emas dari ketinggalan kita terhadap proses pembelajaran yang sudah tertinggal dari negara-negara maju yang lebih unggul di bidang dunia pendidikan nya. Saya rasa jikalau pemerintah sudah membuat kurikulum pembelajaran yang sudah mantap, maka pendidik atau guru akan merasa sangat terbantu dengan adanya kurikulum, karena mereka dapat mengajar dengan mengikut struktur yang telah dibuat dalam penyampaian materi maupun evaluasi yang akan dilakukan terhadap peserta didik nantinya.
Perlu di garis bawahi tanggapan ini semua memang buah dari opini opini yang memang saya dapat melalui apa yang memang saya tau.

ALVI ZANUAR PRATAMA mengatakan...

Nama : Alvi Zanuar Pratama
Kelas : 6A
Nim : 2108109020

Izin menanggapi pak Masduki saya ingin menanggapi 2 dari tema blog bapa ;

Sebelum nya izinkan saya nyanyi terlebih dahulu pak
"Lagunya begini nadanya begitu makna nya tak ada seperti penjabat "
Mohon maaf pak jika saya menanggapi nya tidak memakai kata2 yang sangat baku karna ini dari pribadi analisis saya sendiri
1.Makan siang gratis
Menurut saya
Mengenai kebijakan makan gratis Ini tidak efektif melihat anggaran sebesar itu yang wancana nantinya di ambil dari dana bos pendidikan selain tidak efektif tapi tidak kesejahteraan kepada para tenaga pendidik dan ketenagaan pendidikan. Oh iya melihat yang kemarin yang viral seorang guru honorer yang di gaji tidak layak dibanding aktifitasnya menjadi seorang guru walaupun di kategori kan sebagai honorer . Dan saya membaca dari pernyataan bapak mengenai anggaran dana untuk makan siang gratis 450 T harus nya bisa banyak untuk di gunakan riset pemerintah mengenai penyebab dari tujuan progam ini untuk mengurangi stunting dan kekurangan gizi pada anak selain itu bisa riset suplemen dan makanan yang nanti nya untuk anak SD dan juga ibu hamil , Dan anggaran segitu besar menurut saya sangat rentan bangat buat di korup coba kita lihat histori kebelakang yang kita sedang mengalami musibah COVID itu ada dana mengenai bantuan makanan dan akhirnya ada tikus berdasi nya juga. Hehe


2.saya ingin menanggapi terkait problem dan tantangan dalam memahami politik pendidikan sebagai kekuasaan

Sebelum nya saya izin disclaimer yah pak saya jujur mahasiswa yang lebih suka langsung mengikuti kajian kajian, diskusi, dan takang tokrong kalo istilah Betawi pak ketimbang yang membaca buku sendiri .bukan saya tidak suka membaca pak saya sangat suka tapi saya lebih suka mendengar. pak mohon izin dan maaf jika nanti tanggapan saya ada yang bisa dikatakan valid atau belum sama sekali valid

Jadi saya pernah mendengar dari salah satu kajian yang dimana kajian mengenai sistem pendidikan di indonesia dan saya menangkap nya masih dalam pertanyaan dan jujur ragu
Kenapa ragu karna apa ya yang bisa di ambil dari sistem pendidikan di Indonesia vokal poinnya pak??

Dan saya dapat ilmu sedikit dari kajian tersebut bahwa kalo di bandingkan dengan Perancis paradigma / sistem pendidikan nya adalah solidarity Kesetaraan yang dimana hasilnya menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kalau Amerika filosofis nya adalah kebebasan manusia , jadi mereka mau belajar apa aja bebas dan mau jadi apapun bebas dengan hal kompetisi nya masing masing
Dan kalau Indonesia apakah karna jejak feodalisme /politik kebijakan kita belum selesai?


Dari say kurang lebih itu pak dan jika bapak ingin berkenan menjawab saya sangat riang sekali pak����

Ayu Indriyanah mengatakan...

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh

Nama : Ayu Indriyanah
NIM : 2108109021
Kelas : Mpi 6A

Meskipun saya memahami pentingnya memberikan makan siang gratis bagi anak sekolah untuk meningkatkan kesejahteraan siswa, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu, saya juga memiliki beberapa kekhawatiran terkait program ini. Salah satunya adalah biaya implementasi yang mungkin sangat besar, dan ada risiko bahwa alokasi dana untuk program ini dapat mengganggu anggaran untuk hal-hal penting lainnya di sekolah, seperti perbaikan fasilitas atau sarana pendidikan. Selain itu, risiko korupsi dan penyalahgunaan dana juga perlu diperhatikan dengan serius, mengingat pentingnya pengawasan yang ketat.

Meskipun saya masih menyadari manfaat potensial dari program ini, saya berpendapat bahwa prioritas seharusnya diberikan pada solusi yang lebih berkelanjutan dan menyeluruh dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Mungkin lebih baik jika dana yang tersedia dialokasikan untuk upaya-upaya yang dapat memberikan dampak jangka panjang, seperti memperbaiki kurikulum, memperluas akses pendidikan, atau meningkatkan kesejahteraan guru. Oleh karena itu, saya berpikir bahwa program makan siang gratis harus dipertimbangkan dengan hati-hati, dengan memperhitungkan berbagai faktor dan memastikan bahwa sumber daya yang tersedia digunakan dengan efisien untuk kepentingan pendidikan yang lebih luas.

Albrast mengatakan...

Saya Ibnu Abu Hanipah dengan NIM 2008109039 kelas MPI6A terkait makan siang gratis memang menjadi program bagus terlebih lagi saudara-saudara kita yang tertinggal oleh kemajuan zaman disana memang sangat susah sekali hanya sekedar makan saja mereka harus bersusah payah dengan jarak tempuh yang jauh hanya sekedar menjual sayur dan segala hal yang bisa mereka tukar agar menjadi selembar kertas kemudian mereka baru bisa makan makanya daya sebut sebagai program yang bagus tapi berbeda pandangan dengan golongan yang mana masih bisa mengikuti perkembangan zaman persoalan makan mungkin tidak seberapa makanya ada pro dan kontra tapi yang perlu kita ketahui makan siang gratis ini masih menjadi perbincangan pasalnya anggaran untuk program ini belum sepenuhnya jelas karena masih simpang siur ada juga yang berpendapat makan siang gratis ini tidak semuanya dapat mungkin hanya beberapa anak saja,mohon maaf mungkin bisa di katakan yang latar belakang kehidupannya masih jauh dengan kekurangan sehingga target makan siang gratis ini bisa tepat sasaran. Tiap program pasti ada yang condong beberapa ke masyarakat karena tidak semuanya program atau sebuah aturan di sama ratakan jika tidak maka yang kaya akan makin terkaya dan yang miskin akan makin termiskin kan oleh aturan tersebut, sekali lagi program ini di pandang bagus menurut pandangan kalangan masyarakat bawah adapun yang berpandangan buruk oleh kalangan masyarakat atas karena lagi-lagi program maupun aturan tidak semuanya di sama ratakan, mungkin lebih benarnya Indonesia ini butuh sebuah perubahan tapi perlu kita ketahui tidak semua masyarakat Indonesia ini akan menerima langsung atas perubahan tersebut pasti adanya pro dan kontra. Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan terkait makan siang gratis karena jika tidak di batasi,saya rasa tidak akan ada habisnya terlebih lagi ini terkait kebijakan pendidikan yang mana semua aspek bersangkutan. Karena dari sebuah pendidikan muncullah pendapat seperti yang sudah di sebutkan dalam artikel ini dan beberapa komentar ini dan saya rasa hal itu masih kurang atau tidak cukup, karena semua aspek belum di sebutkan. Terkait politik pendidikan memang menjadi sebuah pegangan masyarakat untuk mengetahui arah gerak pemerintah supaya mengerti akan arah pemerintah ini kemana jadi tidak akan di kambing hitamkan, lagi-lagi politik ini melibatkan banyak korban lebih lagi masyarakat yang mana belum paham akan arah gerak pemerintah mau tidak mau sebuah kebijakan atau program pasti ada yang harus di unggulkan atau harus ada yang di korbankan demi sebuah kemajuan dan perubahan.

Seharusnya ada beberapa peran dari pemerintah untuk mendampingi masyarakat supaya tidak terjadi persoalan yang sudah di sebutkan di atas, karena pemahaman masyarakat ini berbeda-beda maka perlu pendampingan secara khusus. Terkait program makan siang gratis atau program lain menurut ku tidak akan ada simpang siur kalau memang dari pemerintah sudah memiliki strategi dan bisa terbuka kepada seluruh masyarakat tanpa perlu ada yang di sembunyikan selagi itu baik untuk Indonesia sendiri.

Ipay Siti Fajri Syamsiah mengatakan...

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Nama: Ipay Siti Fajri Syamsiah
NIM: 2108109004
Kelas: MPI 6A


Izin menanggapi pak, sebelumnya yang saya tahu banyak sekali pro kontra karena adanya program ini, menurut saya pribadi tidak salah dengan adanya program makan gratis pada anak sekolah ini, mungkin banyak yang khawatir akan biaya yang harus dipersiapkan, tetapi menurut saya apabila semua biaya yang disediakan pemerintah bisa diatur dan diberikan sesuai sasaran tidak menutup kemungkinan bahwa program ini bisa berjalan, untuk dana BOS yang belum sesuai sasaran juga perlu untuk ditinjau kembali apakah penerimanya sudah benar-benar orang yang membutuhkan atau bukan, lalu bisa perlahan dimasukan untuk program makan gratis ini. Selain memikirkan biayanya, mungkin kita bisa lihat pada segi positifnya seperti gizi anak-anak sekolah yang akan lebih dipikirkan dengan disediakannya lauk pauk yang sehat itu dapat berpengaruh kepada cara berpikir dan cara kerja otak anak.
Mengenai kurikulum pendidikan memang benar itu sangat membingungkan bukan hanya guru dan pendidik lain nya, mungkin sebagai siswa dan orang tua yang ikut membantu mengajarkan anak pun pasti ada kebingungan, menurut saya walaupun kurikulum harus diganti dan disesuaikan sesuai dengan perkembangan zaman, alangkah baiknya kurikulum tersebut bukan diganti sepeneuhnya, melainkan di upgrade dan disesuaikan dengan kondisi pendidikan di indonesia sekarang.
Lalu mengenai politik pendidikan, memang benar harus kita pahami, karena sebetulnya kita juga punya hak bagaimana program-program pendidikan itu berjalan dan agar mencapai tujuan yang sama yaitu untuk kesejahteraan pendidikan itu sendiri tetapi dengan cara baik saling menukar pendapat dengan kepala dingin. Sekian dari saya terimakasih

Neila ratna fiainul jambak mengatakan...

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Nama : Neila Ratna Fiainul Jambak
NIM : 2108109057
Kelas : Mpi 6B
Punten pak izin menanggapi...
Jadi pendapat pribadi saya, pernyataan dibawah ini menggarisbawahi perdebatan yang kompleks seputar pendidikan dan politik kebijakan di Indonesia. Saya sepakat bahwa isu makan siang gratis bagi anak sekolah, meskipun bernilai baik dalam konteks kesejahteraan siswa, memunculkan pertanyaan penting mengenai alokasi anggaran dan prioritas pendidikan yang lebih luas itu bagaimana?
Memang benar bahwa saat ini banyak sekolah di Indonesia yang membutuhkan peningkatan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang lebih mendesak, seperti ruang kelas yang memadai dan sarana pendukung pembelajaran. Alokasi dana BOS yang terbatas dan intensitas kegiatan sekolah yang tinggi membuat wacana makan siang gratis akhirnya menjadi suatu perdebatan yang relevan.
Lebih jauh lagi menurut saya peribadi, kita harus mempertimbangkan bagaimana keputusan politik dalam pendidikan, termasuk alokasi anggaran, kurikulum, dan partisipasi masyarakat, dapat berdampak pada kualitas dan aksesibilitas pendidikan di negara kita. Saya setuju bahwa politik pendidikan sebagai kekuasaan memerlukan pengelolaan yang bijaksana dan transparan agar tujuan pendidikan yang berkualitas dan inklusif dapat tercapai.
Menyikapi tantangan kompleks ini, saya percaya bahwa mendorong diskusi terbuka dan kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat adalah kunci untuk mencapai perubahan positif dalam sistem pendidikan kita. Kita perlu fokus pada penguatan lembaga pendidikan yang demokratis, pengembangan sekolah yang otonom dan inklusif, serta memperkuat pengawasan terhadap kebijakan pendidikan.
Dalam konteks politik pendidikan sebagai kekuasaan, penting untuk terus mengadvokasi pendidikan yang merata, berkualitas, dan mengakomodasi kebutuhan seluruh masyarakat. Dengan memahami dan mengatasi tantangan ini, kita dapat bersama-sama membangun masa depan pendidikan yang lebih adil dan berkualitas bagi generasi mendatang.
Itu saja tanggapan saya, sekian terimakasih.

Kurnia Wahidah mengatakan...

Nama : Kurnia Wahidah
Nim : 2108109014
Kelas: Mpi 6A
Mengenai blog dengan judul "Wacana Makan Siang Gratis bagi Anak Sekolah dan Politik Pendidikan sebagai Kekuasaan". saya akan memberikan komentar yang objektif dan berimbang terkait topik tersebut.
Blog ini tampaknya membahas isu-isu penting dalam bidang pendidikan, khususnya terkait dengan program makan siang gratis bagi anak sekolah dan bagaimana politik dapat mempengaruhi kebijakan pendidikan. Isu penyediaan makan siang gratis bagi anak sekolah merupakan topik yang sensitif dan sering diperdebatkan, karena berkaitan dengan pemerataan akses pendidikan, kesejahteraan siswa, dan peran pemerintah dalam mendukung pendidikan.
Penulis tampaknya berpendapat bahwa program makan siang gratis dapat menjadi alat politik untuk memperoleh kekuasaan dan dukungan masyarakat. Hal ini memang menarik untuk dikaji lebih lanjut, karena kebijakan pendidikan seringkali dipengaruhi oleh kepentingan politik. Namun, penulis harus berhati-hati dalam menyampaikan argumennya agar tidak terkesan terlalu partisan atau menuduh pihak tertentu.
Secara umum, blog ini dapat memberikan wawasan yang berharga mengenai isu-isu krusial dalam dunia pendidikan dan bagaimana politik dapat mempengaruhinya. Namun, penulis harus tetap menjaga objektifitas dan tidak terjebak dalam narasi yang terlalu subjektif atau provokatif. Pembahasan yang berimbang dan didukung oleh data yang akurat akan sangat membantu pembaca memahami kompleksitas permasalahan ini.

Albrast mengatakan...

Saya Ibnu Abu Hanipah dengan NIM 2008109039,Tidak hanya persoalan makan siang gratis buat anak-anak saja, persoalan jalan sebagai mobilitas sehari-hari saja belum terselesaikan bagaimana kita bisa menyelesaikan beberapa program yang mana masih belum selesai dan sekarang ada program lagi menurut hemat bodohku pemerintah ini masih tergesa-gesa dalam merancang kemajuan dan perkembangan demi Indonesia maju. Sebenarnya sebuah perubahan itu perlu persiapan matang,baik dari kalangan masyarakat maupun pemerintah karena tanpa dorongan masyarakat pun pemerintah akan kewalahan dan sebaliknya juga mungkin akan lebih menderita. Ini baru dua tema saja,belum beberapa kebijakan lain yang belum terselesaikan,maka timbul sebuah pertanyaan apakah sebuah kebijakan itu mensejahterakan atau menyengsarakan? Maka dari itu timbul masyarakat yang akan acuh terhadap pemerintah, karena tadi masyarakat semakin di bingungkan apalagi tanpa di dampingi langsung oleh masyarakat setidaknya menyampaikan bagaimana program atau sebuah kebijakan ini sebelum di sahkan atau di setujui.

Maka dengan itu bagi pemangku kebijakan lah menjadi kan faktor ini melebar lagi-lagi tidak semua yang duduk dalam kebijakan ini bersikap benar, benar-benar membawa suara rakyat atau bisa kita sebut tikus kantoran alhasil mereka yang duduk dalam kekuasaan ada yang benar-benar bersikap demi masyarakat ada juga yang demi kesenangan sendiri, makanya tidak semua program itu buruk tapi kembali ke orang-orangnya siapa yang menduduki bangku kebijakan tersebut. Ada yang bilang contoh negara ini negara itu mungkin secara menghayal enak tapi melihat sebuah realita di Indonesia akan susah untuk di terapkan lebih lagi Indonesia masih termasuk negara berkembang belum menjadi negara yang maju. Kembali lagi kalau pemerintah masih membawa kepentingan pribadi akan susah untuk menuju Indonesia maju, karena masih membawa kepentingan pribadi yang mana belum tentu akan baik untuk seluruh masyarakat.

Aida Septiyani mengatakan...

assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Nama : Aida Septiyani
Nim : 2108109025
Kelas : Mpi 6A

Terkait wacana program makan siang gratis, ini adalah contoh bagaimana kebijakan pendidikan bisa memiliki dampak yang luas dan beragam. Hal ini dengan tepat menunjukkan bahwa sementara tujuan program ini baik yaitu, untuk memastikan bahwa semua anak memiliki akses ke makanan sehat, bertujuan baik untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak sekolah, implementasinya dapat menimbulkan tantangan, terutama jika dana tersebut diambil dari dana BOS yang sudah terbatas.Muncul kekhawatiran akan dampaknya terhadap sekolah-sekolah yang intensif kegiatan.

Ini mencerminkan politik anggaran dalam pendidikan, di mana alokasi dana menjadi cerminan dari prioritas politik dan kekuasaan. Pembebanan dana BOS dengan program makan siang gratis menimbulkan pertanyaan tentang prioritas program-program pendidikan mana yang seharusnya mendapat perhatian lebih besar, Sebelum mengimplementasikan program ini, penting untuk melakukan evaluasi dampak dan mempertimbangkan prioritas dalam pendidikan. Apakah program ini merupakan kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi, atau apakah ada kebutuhan lain yang lebih mendesak seperti fasilitas dan sarana prasarana pendidikan?

Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang sumber dana untuk program ini. Sebelumnya, ada pembicaraan bahwa anggaran untuk makan siang gratis akan diambil dari subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dicabut, yang dianggap tidak tepat sasaran. Ini menunjukkan betapa pentingnya kebijakan publik dalam mengalokasikan sumber daya ke program-program yang benar-benar memprioritaskan kepentingan masyarakat.

Menurut saya secara keseluruhan, isu makan siang gratis bagi anak sekolah tidak hanya menyoroti kebutuhan akan kesejahteraan anak-anak sekolah, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang pengelolaan dana pendidikan dan prioritas politik dalam memperbaiki sistem pendidikan. Dalam konteks politik pendidikan, hal ini menunjukkan kompleksitas dalam menyeimbangkan kebutuhan riil dengan tuntutan politik serta menggarisbawahi perlunya transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan terkait pendidikan.

Yuliany mengatakan...

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Nama : Yuliany
Nim : 2108109015
Kelas : MPI - 6A

Punten pak izin menanggapi, mengenai wacana makan siang gratis bagi Anak Sekolah, tanggapan saya yaitu bahwa perencanaan kebijakan harus mempertimbangkan secara menyeluruh dampaknya terhadap berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kesejahteraan guru. Mengalihkan beban anggaran makan siang gratis ke dana BOS harus dipertimbangkan dengan cermat agar tidak mengorbankan program-program lain yang juga penting. Selain itu, penting juga untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana makan siang gratis agar tidak terjadi penyalahgunaan atau korupsi. Pemerintah harus memiliki mekanisme yang efektif untuk memantau dan mengevaluasi implementasi program ini guna memastikan bahwa dana dialokasikan dengan tepat dan memberikan manfaat yang diinginkan bagi anak-anak sekolah.

Tanggapan mengenai Politik pendidikan sebagai kekuasaan
Tanggapan saya mengenai hal tersebut yaitu pendidikan memang mencerminkan interaksi antara kekuasaan, nilai-nilai politik, dan tujuan pendidikan suatu negara. Tantangan seperti indoktrinasi, distribusi sumber daya, dan pengelolaan lembaga pendidikan yang demokratis memang memerlukan perhatian serius, seperti pengelolaan lembaga pendidikan yang demokratis dan memperkuat pengawasan kekuasaan, memang bisa menjadi langkah-langkah yang penting dalam merespons tantangan politik pendidikan. Kesadaran akan politik pendidikan sebagai kekuasaan juga penting untuk memberdayakan masyarakat dalam memperjuangkan sistem pendidikan yang lebih adil dan berkualitas. Pemahaman yang mendalam tentang politik pendidikan membantu kita memperjuangkan pendidikan yang tidak hanya mengajarkan keterampilan akademis, tetapi juga membangun kesadaran kritis, memperkuat partisipasi politik, dan mempromosikan inklusivitas serta keadilan dalam pendidikan.
Itu saja tanggapan saya, terima kasih

Nurul Ainur R mengatakan...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Nurul Ainur Rizkiah
Kelas : 6B
NIM : 2108109068

punten izin menanggapi pak

Makan siang gratis bagi anak sekolah bisa menjadi langkah yang positif dalam memastikan bahwa setiap anak mendapatkan akses yang adil dan setara terhadap nutrisi yang memadai. Namun, ketika kita mempertimbangkan hal ini dalam konteks politik pendidikan sebagai kekuasaan, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan.
Pertama, kebijakan ini seharusnya tidak hanya menjadi alat politik untuk mendapatkan dukungan, tetapi juga harus didasarkan pada pemahaman mendalam tentang kebutuhan nyata anak-anak di berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan geografis.
Kedua, politik pendidikan sebagai kekuasaan harus memastikan bahwa alokasi sumber daya untuk program makan siang gratis ini dilakukan secara transparan dan efisien. Hal ini penting untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan atau diskriminasi dalam pendistribusianya.
Ketiga, penting juga untuk melihat dampak jangka panjang dari kebijakan ini dalam memperkuat sistem pendidikan secara keseluruhan. Hal ini mencakup aspek seperti meningkatkan kualitas pendidikan dan mengurangi kesenjangan pendidikan.
sementara memberikan makan siang gratis bagi anak sekolah adalah langkah yang positif, politik pendidikan sebagai kekuasaan harus bertanggung jawab dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kebijakan tersebut dengan tujuan yang jelas untuk meningkatkan kesejahteraan dan masa depan pendidikan anak-anak.

ERBY AULIYA SANI mengatakan...

NAMA : ERBY AULIYA SANI
NIM : 2108109028
KELAS : MPI 6A

Izin Menanggapi pak🙏
Membahas tentang hubungan antara politik dan pendidikan di Indonesia. Salah satu poin penting yang diangkat adalah permasalahan kompleks dalam mengalokasikan dana pendidikan, terutama dalam konteks wacana makan siang gratis untuk anak sekolah yang diusulkan akan dibebankan pada dana BOS.

Tanggapan saya adalah bahwa dalam mengambil kebijakan pendidikan, pemerintah perlu mempertimbangkan dengan cermat dampaknya terhadap semua aspek pendidikan, seperti kurikulum, dana, dan aksesibilitas. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa kebijakan pendidikan tidak hanya berfokus pada janji politik semata, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat serta memperhatikan keberlanjutan jangka panjang.

Dalam menanggapi isu ini, perlu adanya keterlibatan semua pihak terkait, termasuk guru, siswa, orang tua, dan masyarakat umum, dalam proses pengambilan keputusan. Dengan melibatkan berbagai pihak, diharapkan kebijakan yang diambil dapat lebih tepat sasaran dan berdampak positif bagi pendidikan di Indonesia.

Selain itu, penting juga untuk mencegah adanya indoktrinasi politik dalam sistem pendidikan, dan memastikan bahwa pendidikan difokuskan pada pengembangan kesadaran kritis, keterampilan, dan partisipasi aktif dalam masyarakat. Dengan demikian, kita dapat membangun sistem pendidikan yang lebih inklusif, demokratis, dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

gambaran yang jelas lainnya tentang kompleksitas politik pendidikan dan tantangannya, seperti masalah alokasi dana dan kebijakan yang tidak terukur. Perlu adanya pemahaman yang mendalam dan solusi yang tepat untuk membangun sistem pendidikan yang lebih adil dan berkualitas. Pendidikan dianggap sebagai alat untuk memperjuangkan perubahan dan keadilan sosial, namun masih dihadapkan pada masalah seperti domestifikasi, stupidikasi, dan indoktrinasi. Diperlukan perhatian khusus terhadap kualitas pendidikan di daerah terpencil agar akses ke pendidikan berkualitas dapat ditingkatkan. Selain itu, perlu pertimbangan matang terkait alokasi dana dan pengelolaan program makan siang gratis agar tidak menimbulkan masalah baru, seperti potensi korupsi. Politik pendidikan sebagai kekuasaan memengaruhi berbagai aspek sistem pendidikan, termasuk pendanaan, kurikulum, standar pendidikan, dan aksesibilitas.

Bachrul Ulum Al-Baihaqy, kelas MPI 6A, NIM 2108109036 mengatakan...

Perkenalkan atas nama saya pribadi yakni :
Nama : Bachrul Ulum Al-Baihaqy
Kelas : MPI 6A
NIM : 2108109036

Assalamualaikum Warahmatullah.
Mohon izin dengan sangat bapak izin mengomentari tentang wacana makan siang gratis dan kebijakan politik pendidikan, sebelum nya pangapurane yaa bapak minal Aidin walfaizin ya.

Bismillah dalam metamorfosa saya tentang wacana makan siang gratis ini sebelum nya kita bahas dari sejarah dulu yaa, awal mula program ini sudah ada ketika udh ada pada rezim presiden Ke-2(Suoharto) yang pada saat itu sumber pangan dan sandang lagi bagus" nya sebelum sm krisis pada orde Baru di jaman reformasi pada tanggal 17 mei 1998.

Secara empiris memang bagus karena tujuan nya adalah membangun investasi dari sumberdaya Manusia itu sendiri dan setelah gizi dan kesehatan nutrisi itu sudah terjaga maka spesifiknya ketika Sumberdaya manusia ini sudah cerdas dan berkompeten maka kita akan spesifikasi nya kita akan bisa.menghasilkan power of the Brilians Inovasion karya maha dahsyat yang blm ada dalam era moderenisasi yang secara disaen nya pembangunan infrastruktur yang di buatkan oleh sumber daya manusia di Indonesia ini saya yakin akan bisa melawan negara yang maju pada saat ini.

Kita bahas secara pengimplementasian di lapangan di era presiden pak Jokowi, menurut metamorfosa pribadi beliau berhasil bapak pembangunan yang hebat, kalo ada jempol 5 saya akan kasih semuanya coba kita lihat di lapangan ketika pembangunan infrastruktur udah bagus maka.kita harus tau kunci nya yaitu sumber daya manusia itu terlebih dahulu nah karena pada tahun ini masanya Politik pesta demokrasi Indonesia yang di selenggarakan pada tanggal 17 April 2024 ini, yang saya rasakan Narasi tema Flog ini seperti nya memang lagi membahas visi misi dari calon presiden nomor urut 2 yaa, yakni Prabowo-Ghibran..tidak apa" memang yang di bawa beliau ingin mencerdaskan bangsa dan negara Indonesia ini dengan umur ingin mengabdi kan diri tulus dengan hati kepada bangsa Indonesia.

kita bahas dulu Makan siang gratis untuk sekolah ya memang secara implisit Indonesia bukan negara maju pada saat ini namun kaya akan dengan Alam nya yang sangat luar biasa kita harus bangga sebenarnya, maka dari itu kita harus semangat untuk membangun negara yang secara elektabilitas yang bagus dan mempuni. Untuk ruangan kelas sebenarnya lebih kita memperkaya sumber daya manusia terlebih dahulu diimbangi dengan fasilitas prasarana sekolah dan mengajar yang begitu apa namanya mumpuni atau secara kuantitas kualitasnya bagus agar daya belajar dan mengajarnya bisa nyaman dan bisa semangat untuk selalu mengerjakan tugas-tugas yang ada di sekolah tersebut.

Kemudian dari vlognya bapak Mas Tuki tentang politik kebijakan pendidikan dalam kekuasaan sangat menarik tema yang memang dibuat oleh bapak izin mengomentari ya Pak pun untuk tema bapak itu memang sangat apa ya menarik yang saya ingin mengomentari bahwa sebenarnya hidup kita di dunia ini memang sudah diatur oleh sistem dan sistem itu akan dioleh oleh suatu pertimbangan pertimbangan-pertimbangan yang secara musyawarah atau mufakat dari setiap orang yang maka dari itu kita harus memahami betul tentang sistem kemudian ketika kita sudah paham tentang sistem maka selanjutnya kita harus paham konsep dari apa yang memang kebutuhan dari objektivitas yang memang kita fokuskan ke dalam ranah kependidikan ketika pendidikannya sudah maju dan sumber daya manusia itu sudah secara elektrolittilitas bisa Bagus maka selanjutnya adalah kurikulum yang harus kita tetapkan dan dikembangkanjika semua itu sudah di lakukan maka kita akan selesai dalam tuntas akan bisa mewujudkan keinginan bangsa Indonesia kita tercinta ini... Sekien Terima kasih.🙏😁

ROMADHONI FITRA ZIROM mengatakan...

Nama : Romadhoni Fitra Zirom
NIM : 2108109024
Kelas : MPI-6A

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya akan sedikit memberikan tanggapan tentang topik yang dibahas di artikel ini. Artikel ini sungguh menarik karena membhasa isu yang sedang hangat tentang janji salah satu calon presiden yang kabarnya sudah/akan terpilih. Sebagai seorang warga negara, kita harus mengetahui program yang dilaksanakan oleh capres terpilih ini efektif atau tidak. Apakah akan membebani yang lain atau bisa menjadikan ladang korupsi baru atau mungkin justru berdampak sangat positif bagi warga negara Indonesia.

Pertama, persoalan makan siang gratis yang digaungkan oleh salah satu capres, terlihat kurang proper (persiapan). Hal ini dikarenakan tidak adanya kejelasan darimana dana itu akan diambil. Beberapa mengatakan akan diambil dari dana BOS sekolah atau dari subsidi BBM. Jika benar diambil dari situ, malah justru akan merugikan rakyat. Karena seperti yang kita tau bahwa dana BOS dan subsidi BBM merupakan hal penting bagi rakyat Indonesia. Jika itu ditarik atau dikurangi malah akan menambah beban terhadap rakyat menengah kebawah yang bergantung pada bantuan tersebut.
Menurut pendapat saya, seharusnya bukan makan gratis yang menjadi penarik utama. Seperti yang kita tau, jika Indonesia sangat banyak rakyat menengah kebawah. Rakyat menengah kebawah ini lebih efektif diberikan tunjangan atau bantuan untuk dijadikan modal mereka bekerja, tentu pemberian modal itu disertai pemberian wawasan dalam dunia kerja agar lebih efektif. Jika rakyat terbiasa diberi makan oleh pemerintah, tidak akan ada usaha untuk memperbaiki status sosial dan akan bergantung pada makan siang gratis ini. Selain itu, jika program makan siang gratis bagi anak sekolah ini hanya dilakukan satu kali pada setiap siswa, sama saja itu hanya omong kosong. Jika memang benar ingin memberi makan berikanlah setiap hari agar makanan siswa terjaga. Namun , kabarnya makan siang gratis ini akan tersebar keseluruh Indonesia di tahun 2029 yang artinya makan siang gratis ini tidak setiap hari namun bertahap dari satu daerah ke daerah lain. Jadi, untuk apa program cegah stuntin dengan makan gratis jika makan gratis nya hanya satu kali

Kedua. Kebijakan pendidikan merupakan hal utama dalam bidang pendidikan. Sebuah kebijakan yang dilakukan pemerintah akan mempengaruhi bagaimana pendidikan akan berjalan. Namun, pada kenyataannya kebijakan pendidikan menjadi sarana atau sarang korupsi para petinggi. Dan dengan bergantinya kebijakan pendidikan setiap ganti menteri akan membuat pendidikan di Indonesia tidak maju-maju dan stagnan.

Ketiga, politik yang sangat mempengaruhi kebijakan pendidikan ini sangat berefek buruk..karena pergantian kurikulum akan menjadi proyek yang memakan uang banyak dan menjadi sarang korupsi. Namun, pada kenyataannya pergantian kurikulum ini tidaklah begitu efektif. Banyak guru yang belom memahami satu kurikulum namun sudah berganti ke kurikulum baru.

Mungkin sekian dari saya, kurang-kuranhnya mohon maaf

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Laela Nurul Fadilah mengatakan...

Nama : Laela Nurul Fadilah
NIM : 2108109030
Kelas : MPI 6/A

Saya izin menanggapi pak, salah satu yang menarik dari artikel ini yaitu ternyata anggaran untuk makan siang gratis terbilang besar dan malah dibebankan kepada dana BOS, sedangkan realitanya dari anggaran pendidikan ini masih banyak masyarakat yang membutuhkan fasilitas sekolah, sarana prasarana, honor guru, biaya sekolah/kuliah yang terlalu mahal dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, menurut saya kenapa makan siang gratis ini sasarannya tidak lebih di spesifikasikan lagi? sedangkan bisa saja program makan siang gratis ini hanya diberikan kepada orang-orang atau daerah-daerah tertentu saja yang benar-benar membutuhkannya sehingga hal tersebut dapat mengurangi anggaran sebelumnya yang sudah diperkirakan. Sementara itu, sisa anggarannya bisa di alokasikan kepada kepentingan anggaran pendidikan lainnya. Hal ini pun bisa untuk mencegah ketidak merataan distribusi program makan siang gratis yang bisa saja dimanfaatkan oleh mereka yang sebenarnya mampu membeli makanan sendiri, sehingga menyebabkan penyalahgunaan sistem.
Selain mementingkan dampak positif dari program ini, dampak negatif nya pun harus diperhatikan untuk mencegah hal buruk terjadi. Karena menurut saya, program makan siang gratis ini dapat menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah, perhatian orang tua pun terhadap makanan anak menjadi terabaikan, bahkan menghambat upaya masyarakat untuk mandiri secara ekonomi.

Kemudian, mengenai politik pendidikan sebagai kekuasaan, sebagai mahasiswa tentu memiliki kekhawatiran akan adanya penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah atau pihak yang berwenang terhadap pendidikan di Indonesia. Diantaranya dapat mengarah pada pengaruh politik yang merugikan kualitas pendidikan, penyalahgunaan dana, atau penekanan terhadap pandangan politik tertentu dalam kurikulum. Oleh karena itu, betul sekali kita harus bisa memahami dan mengatasi tantangan politik pendidikan agar dapat membangun sistem pendidikan yang berkualitas.

Sekian tanggapan dari saya, mohon maaf bila ada salah kata, terima kasih pak����

Dita Nanda Tiana mengatakan...

Nama : Dita Nanda Tiana
NIM : 2108109005
Kelas : MPI 6A

Saya memahami bahwa program makan siang gratis memiliki tujuan yang baik, seperti meningkatkan gizi anak, membantu keluarga berpenghasilan rendah, serta meningkatkan konsentrasi dan prestasi akademik anak. Program ini baik untuk kesehatan dan kesejahteraan siswa terutama yang keluarganya berpenghasilan rendah dan dapat memastikan siswa mendapatkan nutrisi yang diperlukan untuk belajar seharian di sekolah.

Akan tetapi, program ini perlu perencaaan yang matang dan terstruktur. Tanpa hal tersebut program ini akan menjadi program yang hanya dilaksanakan untuk memenuhi janji dengan pelaksanaan yang seadanya demi kepentingan politik semata. Perlu dipaparkan secara jelas dan terperinci siapa saja sasaran/target penerimanya? dari mana anggaran program ini diambil? siapa saja yang terlibat dalam pelaksanaanya? makanan bergizi seperti apa yang akan diberikan? dan lainnya. Harus diperhatikan bahwa makan siang yang diberikan sudah memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi anak agar sesuai dengan tujuan program tersebut. Perlu diperhatikan juga anak yang intoleran laktosa dan memiliki alergi tertentu sehingga menu yang ada dapat disesuaikan. Kebijakan yang dibuat untuk program ini harus memperhatikan dampak baik dan buruknya bagi segala pihak. Program ini cukup kompleks untuk dilaksanakan dalam skala yang besar sehingga perlu dikaji secara mendalam sebelum dilaksanakan.

Program ini perlu menggunakan skala prioritas sehingga dapat terukur dengan jelas bagaimana program ini dapat berjalan tepat sasaran. Anggaran dalam program ini juga perlu dilakukan secara transparan dengan akuntabilitas yang jelas sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya korupsi.

Wacana makan siang gratis yang akan dibebankan pada dana BOS perlu dicermati kembali agar tidak merugikan pihak lain dan menghambat program sudah berjalan atau yang akan dijalankan. Dana BOS cukup difoskuskan untuk keperluan sekolah, seperti membeli kebutuhan pembelajaran, membangun sekolah, mengembangkan perpustakaan, dan meningkatkan kesejahteraan guru honorer. Dana BOS tidak cukup besar untuk bisa dipangkas demi menjalankan program baru karena realitanya dana yang sudah ada masih belum cukup untuk kebutuhan fasilitas, prasarana dan sarana, gedung baru, serta gaji guru honorer. Jika program makan siang gratis tetap dilaksanakan dengan dana BOS, maka akan banyak program yang dikorbankan dan guru honorer akan ikut terancam.

Saya rasa akan lebih baik jika bahan pokok menjadi lebih murah dan terjangkau dibandingkan makan siang gratis yang belum tentu pembagiannya dilakukan secara merata. Dengan adanya bahan pokok yang murah dan terjangkau, tiap keluarga dapat memenuhi kebutuhan hariannya dengan baik. Anggaran yang ada pada masing-masing tempatnya menjadi tidak perlu dipangkas untuk program tersebut.

Dita Nanda Tiana mengatakan...

Nama : Dita Nanda Tiana
NIM : 2108109005
Kelas : MPI 6A

Selain wacana makan siang gratis, isu pergantian kurikulum juga perlu diperhatikan. Pergantian kurikulum diperlukan sebagai penyesuaian perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, dalam pelaksanaanya, pergantian kurikulum m tidak dilakukan secara perlahan-lahan sehingga sulit bagi guru dan siswa untuk beradaptasi. Perlu dilakukan pertimbangan terlebih dahulu sebelum pergantian kurikulum dan lakukan secara perlahan.

Benar bahwa politik memengaruhi sistem dan kebijakan pendidikan, seperti kebijakan kurikulum, pendanaan, dan akses pendidikan. Karena politik, kebijakan kurikulum dapat berubah seiring pergantian menteri pendidikan, pendanaan bertambah/berkurang, dan akses pendidikan terhambat/dilakukan secara menyeluruh hingga daerah terpencil. Politik dapat berdampak baik maupun buruk dalam sistem pendidikan. Maka, seluruh kebijakan politik dan pemerintah harus dikritisi sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang merugikan.

Pendidikan merupakan alat untuk memperjuangkan perubahan dan keadilan sosial. Masih banyak kesenjangan dan ketidakadilan yang terjadi sehingga perlu terus diperjuangkan. Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran kritis karena masih banyak sekali orang yang anti dengan sesuatu yang bersifat kritis atau mengkritisi karena dianggap salah/melawan pemerintah. Padahal, kritis diperlukan untuk mengawasi pemerintah agar tidak melenceng dalam melakukan tindakan. Pendidikan dapat membangun kapasitas dan keterampilan sehingga dapat terciptanya kemandirian pada tiap individu maupun kelompok dalam menyelesaikan masalah dan mencapai tujuannya. Pendidikan dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan yang termasuk dalam kelompok marginal sehingga dapat mandiri secara ekonomi, sosial, dan budaya. Pendidikan mendorong partisipasi politik yang dapat dijadikan sebagai salah satu parameter dalam penilaian tingkat demokrasi. Semakin tinggi partisipasi politik dalam masyarakat dapat menunjukkan kondisi demokrasi yang berkualitas. Hal ini sangat diperlukan mengingat kondisi demokrasi kita yang kian menurun. Pendidikan membangun gerakan sosial dengan menggerakkan sejumlah orang yang terorganisir untuk merubah/mempertahankan suatu unsur tertentu dalam masyarakat luas.

Proses domestifikasi dan stupidikasi dapat merusak kualitas pendidikan. Adanya domestifikasi dalam pendidikan dengan menjadikan ijazah sebagai tangga untuk menaikkan status sosial menyebabkan persoalan baru seperti adanya pemalsuan ijazah. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai usaha atau proses mendidik dan mencerdaskan, melainkan sebagai tempat untuk menaikkan status sosial semata. Sehingga banyak orang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan ijazah secara instan tanpa mengikuti proses pendidikan dengan benar.

Perlahan kurikulum terus berubah menyesuaikan dengan kebutuhan, seperti kurikulum merdeka yang mulai memberikan kebebasan kepada sekolah untuk dapat menyesuaikan kurikulumnya dengan kondisi sekolah dan melibatkan kreativitas guru.

Segala tantangan yang ada dalam pendidikan ini perlu dikritisi dan diawasi sehingga dapat dilakukan pertimbangan sebelum pengambilan keputusan dan pendidikan dapat menjadi lebih adil, bermutu dan berkualitas bagi semua.

Vina putri liana mengatakan...

Nama : Vina putri liana
Nim : 2108109012
Kelas : MPI /6A

Memberikan makan siang gratis bagi anak sekolah merupakan langkah positif untuk meningkatkan kesejahteraan dan keseimbangan gizi mereka. Namun, dalam konteks politik pendidikan, hal tersebut juga dapat menjadi alat kekuasaan bagi pemerintah atau partai politik untuk memperoleh dukungan dari masyarakat.

Memahami politik pendidikan sebagai kekuasaan berarti menyadari bahwa kebijakan pendidikan sering kali dipengaruhi oleh kepentingan politik, baik itu untuk memperoleh dukungan politik, memperkuat posisi politik, atau mengendalikan narasi publik. Hal ini dapat memengaruhi cara kebijakan pendidikan dirancang, diimplementasikan, dan dievaluasi.

Dalam konteks ini, penting untuk mengkaji dan mengkritisi bagaimana kekuasaan politik mempengaruhi pendidikan, serta bagaimana pendidikan dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat atau menggugat kekuasaan politik. Perubahan positif dalam sistem pendidikan sering kali memerlukan pemahaman yang mendalam tentang dinamika politik dan bagaimana kekuasaan politik dapat memengaruhi kebijakan dan praktik pendidikan.

Fani Nur Fitriyani mengatakan...

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Nama : Fani Nur Fitriyani
NIM : 2108109006
Kelas : MPI 6A

Sebelumnya Saya akan memberikan sedikit tanggapan mengenai topik yang di bahas pada artikel ini, Artikel ini sangatlah bagus dan sangat menarik untuk kita baca mengenai makan siang gratis. Menurut saya pemberian makan siang gratis merupakan program yang tidak ada salahnya, program ini menurut saya memiliki cangkupan sangat luas yaitu dapat mendongrak kualitas sumber daya manusia khususnya pada Anak-anak dapat menyiapakan generasi muda yang berkualitas dan dapat mendorong indonesia menjadi lebih maju. Melalui program makan siang gratis dapat mengatasi tiga masalah di Indonesia, yaitu kesehatan, ketidaksetaraan sosial, dan ekonomi. Program ini dapat membantu siswa sekolah dan ibu hamil untuk mendapatkan nutrisi yang cukup dengan harapan dapat meningkatkan fungsi kognitif, prestasi, dan kesehatan siswa, Tidak hanya itu program ini mungkin bisa mengatasi kesenjangan sosial, terutama di bidang pendidikan dan jender, karena program ini rencanakannya diberlakukan di seluruh Indonesia. program ini juga dapat mendorong peningkatan ekonomi baik di industri makanan, peternakan, dan pertanian. Program ini juga dapat membantu masyarakat yang ekonominya rendah Terutama yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Rencana ini mungkin dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya generasi penerus bangsa dan dapat memperkuat ekonomi bangsa.

Menurut saya di sisi lain, program ini juga berpotensi menguntungkan beberapa pihak lain. Misalkan Dalam bidang politik, program makan siang gratis ini bisa menjadi alat politik untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat pemilih untuk pemilu selanjutnya. Kelompok yang rentan mungkin juga akan terbantu oleh program ini. Misalkan ditinjau dari bidang ekonomi program ini juga berpeluang dapat meningkatkan korupsi dan inflasi. Dalam pelaksanaannya, program makan siang gratis ini membuka banyak celah masalah. Tetapi dengan memberikan makan siang gratis itu harus direalisasikan secara teknis.

Dengan adanya program makan siang gratis itu harus kita cermati karena yang saya khawatirkan salah satunya yaitu pada biaya implementasi yang akan dikeluarkan mungkin sangatlah besar dan yang menjadi perbincangan dan permasalahan disini yaitu apabila program makan siang gratis itu mengambil dari anggaran melalui dana bos, menurut saya, malah justru akan merugikan rakyat dan akan berimbas kepada pendidikan juga, mengenai anggaran biaya untuk pemberian makan siang gratis dengan menggunakan dana bos bahwa kebijakan alokasi dana bos untuk program makan siang gratis ini masih perlu dikaji lagi. Menurut saya dana bos itu tidak dapat di pungkiri bahwa dana bos yang selama ini menjadi penyokong sarana dan prasarana yang ada di sekolah seluruh Indonesia. Dana ini digunakan untuk membayar biaya untuk buku hingga gaji guru honorer, selama ini dana BOS di indonesia saja masih belum cukup untuk memenuhi segala beban/kebutuhan anggaran biaya pendidikan di indonesia.

Fani Nur Fitriyani mengatakan...


Nama : Fani Nur Fitriyani
NIM : 2108109006
Kelas : MPI 6A

Apalagi, jika dana BOS dipotong untuk program makan siang gratis. Justru mengakibatkan gaji guru honorer yang saat ini masih tidak layak menjadi semakin memprihatinkan. Jika pemberian makan siang gratis mengambil anggaran dari dana bos pasti tidak akan cukup, jika kita lihat dari anggran dana bos itu pasti kedepannya akan sangat ribet. Memang memberi makan siang gratis itu sangat bagus tujuannya untuk memperbaiki gizi anak tetapi jangan dilupakan juga dalam perbaikan gizi guru honorer di indonesia juga masih di bilang sangat memperihatinkan dengan gaji guru honorer 300 ribu, perlu diketahui juga guru-guru honorer ketika di gaji melalui anggaran dana bos untuk gaji guru saja kadang terlambat berbulan-bulan, Apabila makan siang gratis di ambil dari anggaran dana bos yang dikhawatirkan malah makan siang akan tertunda sampe dana bos itu cair dan saya kira disini akan menjadi potensi masalah jika menggunakan skema dana bos, tidak hanya itu sekolah pun akan kerepotan dan guru-guru pun akan sibuk dalam mengurusi kerepotan makanan dan pembelajaran pun tidak efektif dan belum lagi gurunya tidak sejahtera dan jangan dilupakan juga kondisi pendidikan di indonesia juga masih menjadi probematika yang dipermasalahkan, Banyaknya sarana dan prasaranan yang masih belum memadai dan permasalahan lainnya. Adapun pembicaraan bahwa anggaran untuk makan siang gratis akan diambil dari subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang akan dicabut. Ini menunjukan bahwa pentingnya adanyaan kebijakan publik dalam mengalokasikan sumber daya keprograman yang benar-benar memprioritaskan kepentingan masyarakat.

Maka dari itu harus adanya pemahaman mendalam dalam mengambil solusi yang tepat untuk membangun sistem pendidikan yang lebih adil dan berkualitas dan bermutu. Diperlukan juga perhatian khusus terhadap kualitas pendidikan di daerah terpencil juga agar akses ke pendidikan berkualitas dapat ditingkatkan. Selain itu, perlu di pertimbangan dengan matang terkait alokasi dana dan pengelolaan program makan siang gratis agar tidak menimbulkan masalah baru seperti potensi korupsi dan lain sebagainya yang dapat merugikan masyarakat dan berimbas pada sektor pendidikan.

Nama : Nurlaela saidah NIM : 21081019017 Kelas : MPI 5A mengatakan...

Nama : NurLaela Saidah
NIM : 2108109017
Kelas : MPI 6A


Menurut saya, wacana tentang makan gratis bagi anak sekolah itu sangat bagus untuk dunia pendidikan. Akan tetapi jika biaya tersebut diambil dari dana BOS itu sangat salah fatal. Karena Dana BOS yang paling utama dialokasikan untuk memenuhi fasilitas fasilitas ruang belajar atau memenuhi untuk sarana prasarana sekolah terlebih dahulu. Agar supaya siswa merasakan tempat yang nyaman dan aman.
Ditambah lagi dengan isu perganntian menteri pergantian kurikulum, dimana kurikulum merdeka tersebut masih dalam percobaan beberapa tahun sekarang dimana guru dituntut untuk bisa terlealisikan dengan baik kurikulum merdeka tersebut. Bagaimana tidak pusing jika ditahun sekarang kurikulum benar akan diganti lagi.
Dampaknya, Menurut saya dalam perubahan kurikulum tersebut sebagian ada yang bisa dilaksanakan oleh guru dengan perlahan-lahan ada yang tergantung terhadap siswa nya.

Dengan munculnya persoalan tentang kualitas 'kemauan negara' sebenarnya guru guru juga bisa memenuhi slogan kinerja tersebut. Asalkan pemerintah bisa memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan oleh para guru. Misalnya materi pembelajaran sudah diajarkan tetapi didalamnya ada yang harus di praktikan nah itu harus ada dalam anggaran biaya dari pemerintah. Agar kemauan negara dalam mencerdaskan siswa bisa terlealisikan.

bahwa pendidikan dan politik tidak dapat dipisahkan. Pendidikan adalah bagian dari masalah politik dan tidak terlepas dari politik, meskipun pendidikan tidak dapat menggantikan fungsi politik. Politik pendidikan berperan sebagai pedoman utama dalam perjalanan pendidikan kebangsaan dan mampu melahirkan produk-produk pendidikan yang berkualitas dan dipertanggungjawabkan. Politik pendidikan juga dapat digunakan untuk melestarikan kekuasaan negara, seperti melalui pengaruh politik dalam bidang pendidikan. Namun, pendidikan tidak dapat menggantikan politik, dan tanpa pendidikan, tujuan-tujuan politik sulit untuk dilaksanaka.

Siti Nur Aini mengatakan...

Nama : Siti Nur Aini
NIM : 2108109034
Kelas : MPI 6A

Wacana tentang memberikan makan gratis bagi anak sekolah memang menjadi bagian dari isu politik pendidikan. Pemerintah dan partai politik seringkali menggunakan hal ini sebagai platform untuk menarik perhatian pemilih dan menunjukkan komitmen terhadap pendidikan dan kesejahteraan anak-anak.
Dengan memberikan makan gratis bagi anak sekolah, mereka dapat menciptakan citra positif sebagai pemimpin yang peduli terhadap kesejahteraan generasi masa depan. Ini juga bisa menjadi alat kekuasaan politik yang kuat, karena kebijakan pendidikan dapat memengaruhi pandangan masyarakat terhadap pemerintah.
Namun, kita juga perlu memperhatikan bahwa politik pendidikan sering kali dimanfaatkan sebagai alat kekuasaan untuk mendapatkan dukungan politik. Penting untuk memastikan bahwa kebijakan pendidikan dijalankan dengan transparan dan bertujuan untuk kepentingan bersama, bukan hanya sebagai alat politik.

Rizal Khotibul umam mengatakan...

Nama: Rizal Khotibul umam
Nim: 2108109018
Kelas:MPI 6A
Tentunya, makan siang gratis di sekolah dapat membantu mengurangi ketidaksetaraan akses terhadap pendidikan, memperkuat kesehatan siswa, dan mempromosikan inklusi. Namun, perlu diwaspadai agar program semacam itu tidak disalahgunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu. Terkait politik pendidikan sebagai kekuasaan, penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil mengutamakan kepentingan siswa dan masyarakat secara menyeluruh, bukan sekadar tujuan politik partisan.

Deti Kurniati mengatakan...

Assalamualaikum…
Nama : Deti Kurniati
NIM : 2108109026
Kelas : MPI/6A

Anak bangsa merupakan tabungan terbaik yang disiapkan untuk menjadi penerus bangsa ini. Dukungan dan dorongan yang diberikan dimasa ini akan menjadi pondasi dimasa yang akan mendatang. Menanggapi mengenai wacana makan gratis dan susu gratis yang diberikan kepada anak bangsa terkhusus anak sekolah/ pesantren yang menurut saya tidak ada salahnya, setiap sesuatu yang baik akan melahirkan hal yang baik juga, termasuk anak-anak yang memiliki gizi buruk menjadi faktor pendukung kecerdasan mereka.
Mengenai dana dari program ini yang katanya dibebankan kepada dana bos menurut saya tentu ada beberapa yang perlu dipertimbangkan lagi yang realitanya dari program Pendidikan ini masih banyak Masyarakat yang memerlukan fasilitas Pendidikan, sarana dan prasarana yang memadai serta tenaga pendidik ( honorer), yang juga ditakutkan pada program ini disalahgunakan. Politik Pendidikan yang disalahgunakan dapat memiliki dampak negativ yang signifikan. Ketika Keputusan politik dibuat berdasarkan kepentingan politik daripada kepentingan siswa dan kualitas Pendidikan, hal ini mengakhibatkan ketidakstabilan, kurangnya konsistensi, dan ketidakadilan dalam sistem Pendidikan.
Sekian tanggapan dari saya mohon maaf apabila ada salah kata, terimakasih.
Wassalamualaikum…

Puja Napiatul Munawaroh mengatakan...

Nama : Puja Napiatul Munawaroh
NIM : 2108109032
Kelas : MPI 6 A
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Izin menanggapi pak 🙏 perihal blog yang.berjudul "wacana makan siang gratis bagi anak sekolah dan politik pendidikan sebagai kekuasaan" menurut saya sebagian besar dari blog tersebut yaitu tentang program dari salah satu capres yang dibebankan pada dana BOS, sedangkan sekarang ini dana BOS tersebut masih menjadi masalah atau menyulitkan bagi sekolah-sekolah yang intensitas kegiatannya sangat tinggi realitas masyarakat Indonesia masih membutuhkan fasilitas untuk kesejahteraan, menurut saya pengambilan makan siang gratis pada dana BOS ini sangat kurang etis karena Indonesia ini bukan merupakan bagian dari negara yang anak sekolah dan masyarakatnya kelaparan ataupun kekurangan makanan, jika menanggapi hal tersebut menurut saya lebih baik dari pemerintahan sendiri mengadakan berbagi sembako kepada orang-orang yang memang sangat membutuhkan dan tidak mampu, karena sebagian besar masyarakat di Indonesia ini merupakan bagian dari masyarakat yang memang masih mampu untuk membeli makan, jika menanggapi hal tersebut juga menurut saya untuk anak sekolah lebih baik mereka mendapatkan fasilitas pendidikan hingga ia ke jenjang perguruan tinggi, karena di Indonesia lebih tepatnya membutuhkan generasi-generasi yang jujur, pintar, cerdas, dan bijak dalam mengambil keputusan, agar generasi selanjutnya juga tidak ada lagi kecurangan dalam berpolitik dan tidak ada lagi koruptor. Menanggapi hal tersebut sebaiknya pemerintah harus lebih bijak lagi karena sebagai kepemerintahan yang baik bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan kekuasaan yang diinginkan melainkan pemimpin kepemerintahan harus dapat memajukan bangsa Indonesia, baik dalam pendidikan kesejahteraan masyarakat dan lainnya karena ini juga akan menjadi keuntungan bagi politik pendidikan itu sendiri.
Mengenai politik pendidikan kita memang harus benar-benar memahami dalam hal ini karena politik pendidikan merupakan kunci dari segala persoalan, pendidikan merupakan kunci dari segala arah seperti kehidupan kita dalam mengambil keputusan, tentunya mengenai politik pendidikan ini pemerintah harus lebih bijak lagi, apalagi di Indonesia ini setiap pergantian kepemerintahan ataupun menteri pasti kurikulum di Indonesia ini akan berubah, seperti halnya pada saat-saat ini, contohnya kurikulum merdeka, sebagian besar kurikulum ini belum sangat dipahami oleh para guru-guru, bagaimana jika guru-guru tersebut belum memahami lalu harus menyampaikan kepada murid-murid tersebut, hal ini menurut saya bukannya Indonesia pendidikannya akan menjadi lebih maju namun di Indonesia ini akan menjadi pendidikan yang kebingungan karena ulah pemerintah sendiri, menurut saya terkait pendidikan di Indonesia ini harus lebih banyak dievaluasi, solusi dari hal tersebut adalah dari kepemerintahan Indonesia sendiri jika memang ingin menjadikan negara Indonesia ini menjadi lebih maju lagi, pemerintahan itu sendiri harus menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang baik dan bijak dalam mengambil keputusan agar pendidikan di Indonesia akan menjadi terarah, terukur, sistematis, dan tentunya menjadikan masyarakat yang sejahtera untuk kedepannya, terimakasih mohon maaf apabila banyak kekurangan, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mitha Latifah mengatakan...

Nama : Mitha Latifah
Nim : 2108109031
Kelas : MPI 6A

Wacana mengenai makan siang gratis bagi anak sekolah dan politik pendidikan sebagai kekuasaan merupakan topik yang sangat kompleks dan menarik untuk diperbincangkan. Di satu sisi, program makan siang gratis bisa menjadi langkah positif dalam meningkatkan kesejahteraan anak sekolah, namun, implementasinya harus hati-hati agar tidak mengganggu alokasi dana pendidikan yang lainnya.
Pemikiran tentang politik pendidikan membawa kita pada refleksi yang lebih dalam tentang bagaimana keputusan politik dan kebijakan pemerintah memengaruhi sistem pendidikan, mulai dari kurikulum hingga distribusi sumber daya dan kualitas pendidikan. Tantangan yang dihadapi dalam memahami politik pendidikan sebagai kekuasaan mencakup keseimbangan antara kebutuhan pendidikan dan tuntutan politik, upaya mencegah indoktrinasi politik, dan membangun sistem pendidikan yang demokratis serta inklusif.
Dari tulisan tersebut, terlihat adanya keprihatinan terhadap kondisi pendidikan saat ini, termasuk kendala-kendala dalam implementasi kebijakan dan peran politik dalam membentuk arah pendidikan. Hal ini menunjukkan pentingnya terus mengkaji dan memperbaiki sistem pendidikan agar dapat memberikan dampak positif yang maksimal bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.
Untuk mengatasi beberapa tantangan dan masalah yang dihadapi dalam konteks politik pendidikan dan wacana makan siang gratis bagi anak sekolah, ada beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan:
1. Transparansi Anggaran dan Pengelolaan Dana Pendidikan: Penting untuk memastikan bahwa alokasi dana pendidikan, termasuk untuk program makan siang gratis, transparan dan efisien. Mekanisme pengelolaan dana harus disusun dengan baik dan diawasi secara ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan atau korupsi.
2. Kebijakan Berbasis Data dan Prioritas: Keputusan kebijakan pendidikan, termasuk program-program seperti makan siang gratis, sebaiknya didasarkan pada data yang akurat dan analisis yang mendalam mengenai kebutuhan riil masyarakat pendidikan. Prioritas harus diberikan pada aspek-aspek yang memberikan dampak besar terhadap kualitas dan aksesibilitas pendidikan.
3. Partisipasi Stakeholder dan Konsultasi Publik: Melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk guru, orangtua murid, dan komunitas pendidikan lainnya, dalam proses pengambilan keputusan dapat membantu mengidentifikasi masalah, menemukan solusi yang lebih tepat, dan meningkatkan penerimaan terhadap kebijakan.
4. Reformasi Kurikulum dan Sistem Pendidikan: Evaluasi terhadap kurikulum yang ada dan memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan memberikan ruang bagi kreativitas guru dan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Selain itu, reformasi dalam sistem pendidikan untuk meningkatkan kualitas guru, aksesibilitas pendidikan, dan pemerataan sumber daya juga penting dilakukan.
5. Penguatan Pengawasan dan Akuntabilitas: Meningkatkan mekanisme pengawasan terhadap penggunaan dana pendidikan serta akuntabilitas dalam pelaksanaan kebijakan pendidikan. Hal ini dapat dilakukan melalui audit independen, evaluasi berkala, dan keterlibatan lembaga-lembaga pengawas yang kompeten.
6. Pendidikan untuk Kritis dan Inklusif: Memperkuat pendidikan yang mendorong kesadaran kritis, inklusivitas, dan pluralitas nilai-nilai dalam masyarakat. Pendidikan harus menjadi alat untuk memberdayakan individu, bukan hanya sebagai alat kontrol politik.
7. Kolaborasi dan Sinergi antara Pemerintah dan Swasta/Sipil: Menggalang kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas pendidikan dalam mendukung upaya perbaikan sistem pendidikan dan implementasi kebijakan yang efektif.
Dengan mengimplementasikan solusi-solusi ini secara holistik dan berkelanjutan, diharapkan dapat mengatasi sebagian besar masalah yang terkait dengan politik pendidikan dan program-program pendidikan seperti makan siang gratis bagi anak sekolah, sehingga menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik dan memberikan dampak positif bagi perkembangan masyarakat dan negara.

nurhapipah mengatakan...

Nama : Nurhapipah
NIM : 2108109010
Kelas : MPI 6A

Menanggapi artikel ini terkait wacana makan siang gratis bagi anak sekolah tentu sangat menarik untuk dibaca dan dibahas, karena terdapat fakta yang menarik di dalamnya.
Menurut saya, salah satu capres yang mengusung program makan siang gratis ini macam terjebak pada persoalan antara janji manis saja. Karena sampai sekarang tidak adanya kejelasan dari mana anggaran itu akan diambil, sedangkan rancangan program makan siang gratis ini senilai ratusan triliun rupiah dengan asumsi terdapat 70,5 juta penerima. Dan bahkan anggaran yang digunakan akan dibebankan pada Dana BOS. Menurut saya hal ini Sama saja memberi makan siang gratis bagi anak sekolah dengan cara mengambil jatah makan para gurunya. Sebab ada guru honorer yang hanya mengandalkan dana BOS.
Skema pembiayaan makan siang gratis harusnya tidak diambil dari anggaran pendidikan termasuk BOS dari APBN. Sebab, anggaran APBN sekarang saja, belum mampu menyejahterakan guru. Anggaran juga belum memperbaiki fasilitas sekolah dan memajukan kualitas pendidikan kita. Belum lagi, jumlah dana BOS dari pemerintah pusat tiap tahun tidak mengalami kenaikan.
Lantaran menyedot biaya besar, makan siang gratis untuk anak sekolah bakal memangsa banyak program dan pos anggaran lain yang lebih penting. Program makan siang gratis pun selayaknya dibatalkan demi menghindari pembengkakan defisit dan pemborosan anggaran negara, seperti yang sudah diperingatkan sejumlah lembaga, Belum lagi jika mempertimbangkan tingginya peluang korupsi dalam program ini.

Kemudian politik pendidikan sebagai kekuasaan, dapat dilihat bagaimana pentingnya pendidikan bagi pemerintah untuk mengelola kekuasaanya, sehingga perlu dilakukan intervensi ideologis, agar apa yang berlangsung di dalam pendidikan sesuai dengan ideologi negara atau kehendak seorang penguasa politik. Oleh karena itu pemerintah atau penguasa politik merasa penting untuk mengeluarkan kebijakan, terlepas dari apakah kebijakan tersebut baik untuk sekolah atau bahkan berdampak buruk bagi keberlangsungan lembaga pendidikan secara khusus atau pendidikan umumnya.

Pendidikan bukan alat politik tetapi politik adalah pendidikan dan sebaliknya pendidikan yang tidak dapat memilih bukan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan negara. (memilih dalam hal ini adalah kebijakan-kebijakan yang sesuai atau bermanfaat bagi individu warga negara).

Makan sarden diatas menara
belum sah jadi presiden ko sudah safari ke mana-mana.

Sekian tanggapan dari saya, terima kasih.

Saiful Fazri mengatakan...


NAMA: SAIFULFAZRI
NIM: 2108109008
KELAS: MPI 6A
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
saya izin menangapi pak🙏🏻
Dalam adanya program makan siang gratis itu harus kita cermati karena yang saya khawatirkan salah satunya yaitu pada biaya implementasi yang akan dikeluarkan mungkin sangatlah besar dan yang menjadi perbincangan dan permasalahan disini yaitu apabila program makan siang gratis itu mengambil dari anggaran melalui dana bos, menurut saya, malah justru akan merugikan rakyat dan akan berimbas kepada pendidikan juga, mengenai anggaran biaya untuk pemberian makan siang gratis dengan menggunakan dana bos bahwa kebijakan alokasi dana bos untuk program makan siang gratis ini masih perlu dikaji lagi. Menurut saya dana bos itu tidak dapat di pungkiri bahwa dana bos yang selama ini menjadi penyokong sarana dan prasarana yang ada di sekolah seluruh Indonesia.
Dana BOS tidak cukup besar untuk bisa dipangkas demi menjalankan program baru karena realitanya dana yang sudah ada masih belum cukup untuk kebutuhan fasilitas, prasarana dan sarana, gedung baru, serta gaji guru honorer. Jika program makan siang gratis tetap dilaksanakan dengan dana BOS, maka akan banyak program yang dikorbankan dan guru honorer akan ikut terancam.